Jumat, 14 November 2014

Menjadi Duta Besar


Penjagaan cukup ketat, bagi yang tinggal di rumah mewah seperti ini pastinya akan bahagia. Cukup jauh dari realita ibukota  sebenarnya. Namun memasuki rumah kedutaan besar negara adidaya merupakan sebuah salah satu pengalaman yang jarang. Dalam sebuah tugas liputan merupakan salah satu cara mendapatkan akses untuk masuk rumah besar ini.

Beberapa aparat keamanan mengamati satu persatu foto dan nama daftar undangan, termasuk wartawan yang akan meliput. Berhasil masuk dengan tersisa geledahan tasku yang diobrak-abrik. Sambil terasa kikuk, penjaga mengantar masuk ke dalam rumah.
Dalam suasana asing tersebut, para ekspatriat dan pejabat bercengkrama membicarakan sesuatu yang serius. Diselingi ketawa-ketiwi sembil menenggak wine.

Aku ambil satu gelas, menenggak kegirangan karena jarang minum mahal seperti ini. Rasanya sepet. Acara dimulai dengan kata pembuka sang duta besar yang tidak sepenuhnya aku pahami. Nanti aku lihat di siaran pers saja untuk bahan tulisan.
Acara berlanjut lagi dengan makan malam, diantaranya ada yang berdansa-dansi dengan iringan piano yang bersuara nyaring di tengah ruang yang agaknya kerap dipakai keluarga duta besar ini menghabiskan waktu. Ada tumpukan buku, penerangan yang artistik. Andai kelak nanti punya ruangan seperti ini.

Semua sibuk, aku meninggalkan kerumunan untuk mencari toilet. Sambil bertanya pelayan rumah, petunjuknya yang terlalu menegaskan besarnya rumah ini. Entah mungkin kesasar, aku sudah jauh dari orang-orang. Aku masuk sebuah kamar, ah kamar sang duta besar. Entah apa yang membawa aku untuk berbaring di ranjang empuk besar ini. Setelah aku kunci kamarnya, aku melepaskan semua pakaian, laiknya pemilik kamar ini.

Sambil memandang langit yang beratap lukisan gaya renaissance, mata kian berat apalagi sudah meliput sejak pagi tak sempat untuk istirahat.

Sinar matahari mulai muncul dari bilik jendela. Ya ampun, sudah pagi. Sebelahku istri duta besar! Kepanikan ini semakin menyeramkan saat aku keluar dari kamar mereka menyambutku dengan bahasa asing. Aku dipersilahkan untuk sarapan, di meja makan sudah tersedia berbagai makanan ala barat.

Aku tahu ini tidak nyata, tetapi cermin yang ada di depanku meyakinkan bahwa aku adalah sang duta besar. Kemana aku? Aku ingin berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi aku tidak lancar berbahasa asing.

Beberapa hari kemudian aku dibawa ke psikiater, aku dianggap ada gangguan mental. Sebab aku lancar berbahasa Indonesia. Mereka menganggap itu hal yang tak wajar.

Garna Raditya

Rabu, 29 Oktober 2014

Kembar Siam Yang Terpisah


Betapa menyebalkan jika telepon genggam ketinggalan di kantor. Mau kembali lagi, badan sudah terlalu capek. Sekarang jam menunjukkan pukul 20.30. Sudahlah, diambil besok saja saat sampai di kantor. Kapan ada waktu santai, kalau pulang malam terus.

Tetapi bagaimana jika ada yang telepon? Barangkali Ami akan memberitahu tentang rencana besok, apakah harus dijemput untuk berangkat kampus, atau mungkin rencana bertemu pamannya saat makan siang.

Atau mungkin ada panggilan bos ku yang sebenarnya menyebalkan, tetapi agar menghindari omelan aku harus tahu apa yang dikerjakan besok, agar tidak harus bolak-balik pergi mengambil barang lagi untuk diantar.

Bekerja di bagian gudang pengiriman barang memang harus siap sedia kapanpun. Berharap masih ada orang di ruangan, agar bisa memastikan HP benar-benar tertinggal dan meminta tolong mengecek, apakah ada telpon atau sms. Atau mungkin ada telpon Ibuku atau kerabat keluarga yang lain. Ah, pikiran semakin tidak tenang.

Di kamar kos yang besarnya hanya 3 x 4 meter itu, Madi menyelesaikan makan malamnya berupa nasi goreng yang ia bungkus pulang. Kegelisahannya terasa pada sendoknya yang diseret-seret di kertas minyak berpiring plastik, seraya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Teman kosnya yang bisa dipinjami telpon genggam pun tak kunjung tiba. Bila masih ada wartel yang masih buka, tentu ia akan pergi mengecek apakah telpon genggamnya ada di kantor atau di suatu tempat. Sayang, teknologi terus menggeliat, wartel satu persatu tutup merayakan mudahnya telekomunikasi saat ini. Tetapi tidak untuk Madi yang masih memikirkan telpon genggamnya yang entah kemana rimbanya. Ia hanya yakin tertinggal di tumpukan berkas kertas yang menggunung akibat kerjaan hari ini yang padat.

“Busyet, lama sekali pulangnya. Pinjam dong HP mu, nanti aku ganti pulsanya dengan rokok sebatang.”

“Pulsaku tinggal sedikit bung, mau telpon yayang nanti tengah malam. Sisakan sedikit lah. Rokok aku masih ada setengah bungkus. Ga butuh!”

Setelah berhasil merayu, akhirnya bisa meminjam HP nya temannya tersebut.

Tut..tut..tut...suara dering tak ada yang menyahut. Madi hanya pasrah kalau ruangannya sudah kosong. Ia coba kembali hingga lima menit berlalu. Sambil menunjukkan wajah pasrah, barangkali ada satpam yang kebetulan mengecek ruangan.

“Tut..tut..tut..ya halo.” Suaranya tidak asing.

“Ini dengan siapa ya?”

Lho, kok malah tanya. Ini dengan siapa ya?

“Saya Madi, itu HP saya yang anda angkat, ketinggalan. Itu posisinya dimana ya?”

“Sinting, saya ini Madi masih di kantor. Saya sedang di kantor mencari HP saya yang 
mungkin ketinggalan di kos. Hey, ini dengan siapa saya berbicara?”

“Tidak usah main-main dengan saya, kalau mau mencuri HP carilah yang lebih moderen nan touch screen itu. HP butut seperti itu kok teganya dicuri, Mas.”

“Lho, kamu ini. Tolonglah, kembalikan HP saya. Nanti saya bayar semampu saya.”
Mereka kemudian janjian untuk bertemu, malam itu juga.

--
Garna Raditya

Rabu, 22 Oktober 2014

Nyamuk Berparas Kelinci

Beberapa saya temukan sisa-sisa teks kilat, sekitar tahun 2002. Sekadarnya saja maknanya. Silahkan


Nyamuk Berparas Kelinci

Satu menit tertidur
aku dikelilingi nyamuk-nyamuk berparas kelinci
mereka ingin darahku
katanya, darah manusia rasanya manis
untuk dijadikan sarapan untuk pasangannya.

---
Lautan Jeroan

Menyeberang lautan jeroan tanpa sampan
airnya berwarna kuning
banyak lalat dan susah berenang
ku bentangkan kain sutra yang putih
untuk berjalan di atasnya.

---
Muka Aspal

Wajahmu seperti aspal yang mendidih
kian mengeras setelah mengering
kendaraan lalu lalang melintasi rautmu
katakan kalau itu menyakitkan

---
Mandi Ampas Kopi

Aku mandi dengan ampas kopi
nikmat rasanya
diusapkan ke tangan hingga ujung kaki
semakin pekat dan terasa dijilati buah anggur
lalu aku lapar setengah mati.

@GarnaRaditya

Kamis, 20 Februari 2014

Maling Remote AC

Tiap pagi, warga digegerkan dengan beberapa rumah yang jendelanya rusak tercongkel dengan keadaan terbuka. Banyak yang mengira dimasuki maling, namun dari tempat kejadian tidak ada barang yang hilang.

Kejanggalan itu membuat warga resah meski tidak terjadi pencurian, karena bisa jadi penculikan, perkosaan dan berbagai tindakan kejahatan lainnya. Warga sepakat untuk bergiliran berjaga beberapa hari kedepan agar tidak terjadi apa-apa. Yang ditemui masih jendela rusak tercongkel dan jejak kaki masuk kamar.


Setelah diamati polanya, kejadian itu hanya terjadi di rumah-rumah tertentu yakni rumah yang dipasangi AC. Dari kesaksian warga yang rumahnya disatroni, pada pagi hari AC nya mati dan remotenya hilang.


Tak ada yang tahu motif pelakunya apa, namun penghuni rumah yang pernah dimasuki kini menggunakan AC seperlunya. Tak lagi dinyalakan malam sampai pagi. Sebab, pada tiap kejadian di kamar tersebut selalu ditemukan secarik kertas bertuliskan "Ingatlah pemanasan global".




@GarnaRaditya

Kamis, 21 November 2013

Suara Pemotong kuku

Pada hari dan jam tertentu, suara itu terdengar dari luar. Berbunyi dengan irama yang tak tentu, seperti pemotong kuku. Tetapi suara itu kian mengusik, berulang-ulang sepertinya kuku yang dipotong begitu panjang, milik siapa itu?

Belakangan, suara sayup-sayup itu berasal dari atap rumah. Memeriksa pun terlampau merepotkan. Tiap malam selalu diliputi rasa penasaran.


Iseng, siang hari menaiki loteng. Ia mendapati potongan kuku, tercecer dimana-mana. Bentuknya berbeda dengan kuku manusia, warnanya buram, bersisik.


Sosok besar, mata merah berbulu hitam dihadapannya. Masih memotong kukunya yang panjangnya sekitar satu meter.


"Hei jelek! Bersihkan engga? Aku potong sekalian lho bulumu."


Seketika, dengan gontai mahkluk itu membersihkan potongan kukunya sambil diawasi. Menunduk dan menghilang, tak berani melihat mata perempuan itu.


Selasa, 17 September 2013

Anak Pohon

Setelah sekian lama, temannya diajak ke apartemen mewah, tempat ia tinggal yang dikelilingi lahan hijau. Sebuah tempat di pinggiran Ibukota yang mulai banyak dibangun gedung-gedung serupa. Bagi dirinya yang tak pernah merasakan serba mewah membuatnya kagum.

"Yuk, renang," kata Alfo mengajak sahabat karibnya, Bian, yang berasal dari keluarga pas-pasan itu menyambut riang. Apalagi dirinya jarang bisa renang.

Dikeriangan saat bermain itu, Bian seperti menyimpan sesuatu yang membuat Alfo bertanya-tanya dengan wajah gusarnya. Ia keluar dari air dengan tergesa-gesa.

"Kamu tahu, dulu dibawah bangunan ini apa?"

"Kuburan? Haha..kamu menakutiku." Jawab Alfo dengan santai.

"Bukan, tetapi keluarga pepohonan."

"Lalu kenapa?"

"Aku anak dari mereka."

Teman Tidur

Bangun selalu tepat pada terik matahari yang sedang menguning. Badan kepanasan dengan kipas angin yang terus menyala merupakan salah satu alasannya terbangun.

Belum minum air putih sejak haus sepanjang tidur, rokok justru menempel di bibirnya yang menghitam. Wajahnya, pengap, tak ubahnya seperti ruangan kosnya yang hanya cukup dengan lemari dan kasur tanpa ranjang.

"Ah, telat kuliah lagi. Kalau begini terus tak lulus-lulus."

Kebiasaannya saat malam begadang tanpa melakukan apa-apa mengancam siklus hidupnya. Ia lantas berpikir apa yang bisa dilakukan supaya segera mengantuk?

Ia membeli cermin panjang, diletakkan horisontal di dinding sebelah kasur. Sejak saat itu ia sering bangun pagi sambil mengucapkan salam dan tersenyum memandangi sebelahnya. Kini ia memiliki teman tidur yang membangunkan dirinya tiap pagi.

Kamis, 20 Juni 2013

Salah Kode Morse

Suara pintu berderit berkali-kali. Kamar sebenarnya terang tapi selimut yang telah menutupi seluruh tubuhku ini tetap menahan untuk tidak mengintip.

Apa barangkali adik yang sedang iseng, atau mungkin ada angin kencang. Seluruh pertanyaan bercampur rasa takut menggenapi keinginan untuk kencing yang sudah ditahan bermenit-menit. Padahal ini kamarku sendiri kenapa aku harus takut, lagipula masih ada orang lain di rumah ini.

Tetapi derit itu terus berbunyi, konsisten dengan jeda dan waktu henti secara berkala. Aku tetap tidak berani beranjak. Sementara keringat terus menetes dari keningku menguap, sebab seluruh badan semakin panas. Sedikit udara untuk menghirup.

Sejak kedatangan pesawat misterius itu, aku bersedia menunggu mereka untuk menjemput. Padahal barang bawaanku sudah aku siapkan. Namun keinginanku pergi dari bumi ini telah sirna, aku tidak tahu kalau itu adalah kode morse dari mereka melalui suara derit pintu itu. Aku menyesal, kenapa dulu tidak pernah pergi ekstrakurikuler pramuka.

@GarnaRaditya

Benci Cerita Cinta

Seakan semua orang kesepian, hanya mengasihani diri. Terutama disaat hujan, meratapi tentang dirinya yang  harinya tidak pernah bahagia. Kalau sudah melankolia, cinta dan rindu hanyalah tema yang ada.

Barangkali para penyair itu memang orang kesepian. Menjual tentang cerita cinta yang diulang-ulang, pembacanya tentu saja yang sedang patah hati atau yang sedang sedih dengan sesuatu.

Jolan menggerutu sendiri tiap malam, seperti ada yang mampat dalam angannya.

Suatu ketika, ia merasa sedang diperhatikan. Jolan seolah tidak peduli, bahkan balasan senyuman maupun tatapan mata itu tidak dihiraukan. Ia sengaja, masih muak dengan perasaan emosional yang serupa. Maklum, trauma dengan masa lalunya ditinggal tanpa pesan cukup membuatnya naik berat badannya.

Di tempat yang sama, hingga kali ini sudah belasan kali menjumpainya lagi. Sorotan matanya yang tajam kian membuat terasa seram. Kesal, ia hampiri dengan geram.

"Kamu...hei! Kamu siapa...Jangan membuntuti saya terus ya!"

Pohon didepannya itu tak menjawab apa-apa

@GarnaRaditya

Kamis, 24 Januari 2013

Akibat Menebang Pohon

Karina tinggal di rumah yang sangat sejuk bersama ayah ibu. Namun belakangan ini, rumahnya terasa aneh. Sering ia mendengar suara riuh ketika terlelap dalam pelukan ibunya.

“Suara apa itu, Bu?” tanya Karina kecil.

“Kita harus waspada sayang, ada pendatang baru dan mereka mulai menghantui,” kata ibunya seraya berbisik. Karina kecil meringkuk ketakutan. Ia kini menyadari kenapa boneka ranting kesayangannya sering berpindah dengan sendirinya. Mereka, makluk asing itu yang memindahkan.

 “Jangan takut, ayah dan ibu akan selalu bersamamu, sayang.”
Gadis manis yang gemar bergaun putih itu merengek hari berikutnya.

“Kenapa, sayang?” Tanya Ibu. “Ibu, rumah kita panas sekali.” Ayah dan Ibu kini mulai geram. Mereka memutuskan untuk berpindah rumah, Karina tidak bisa dibiarkan kepanasan sepanjang hari.
Pagi itu, penghuni rumah di sebelah rumah Karina mengepak semua barang, meskipun ini baru minggu pertama tinggal disana.

Mereka ketakutan setengah mati. Penghuni pohon depan rumah semalam menghantui karena pohon mereka tebang tanpa satu daunpun tersisa. Saat mereka menjejakkan kaki keluar dari pintu rumah, Karina kecil dengan gaun putihnya melambaikan tangan kemudian ia bersiap untuk tidur karena matahari diluar mulai terik.



Devi Hermasari

Senin, 07 Januari 2013

Sendiri di Bumi

Untuk mengawali cerita perdana di tahun 2013 ini, saya akan sematkan satu judul dalam format cerpen. Sebagai penghela nafas untuk mereguk suasana baru. Anggap saja sebagai bonus. Cerbung horor ini akan tetap bergulir ditengah fiksi kilat yang akan terus berjalan. Selamat menikmati!

***

Dia sendirian di belantara hijau. Udara yang terhirup masih sejuk, belum ada polusi yang menyengat hidungnya saat bangun pagi.

Kadang Sunaf di ujung jurang, tiba-tiba sudah berenang di lautan sambil menyapa karang. Cari makan sekalian. Hidupnya terpenuhi dari kebebasan yang ia miliki.

Sunaf tidak pernah merasa sendiri, karena angin adalah teman akrabnya, bicara dari desiran. Apalagi hujan, serasa mendengarkan orkestra ketika butuh ketenangan.

Tak jauh dari pohon yang ia rebahi, pasangan yang konon disebut Adam dan Hawa itu hidup di sebuah taman yang disebut Eden. Mereka tidak terpisahkan, serasa dunia milik berdua.

Yang tiap kali Sunaf membuat menelan ludah, mereka berdua telanjang. Apalagi saat hawa sedang tiduran di bawah pohon, dia amati lekuk tubuhnya yang sintal. Amboi, Sunaf pikirannya memang nakal.

Sementara disaat Adam tengah sibuk berburu buah, dia berusaha mendekat pada Hawa beberapa jengkal berselimut belukar, memastikan bisa memandang keelokan matanya yang tertutup.

Bisa sampai berjam-jam. Kadang birahinya muncul, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti gunung yang mau meletus, instingnya hanya seperti kepulan asap tebal ala bulu domba yang kusam. Tak kunjung meletup.

Hawa rambutnya panjang, sampai menutup pantatnya yang hampir kemerah-merahan. "Duh seperti apel, rasanya ingin aku gigit lemas, separuh saja boleh lah."

Hingga atap perutnya yang seperti gelembung air, ingin ia renangi sampai pada pulau yang tertuju. Begitu liar Sunaf membayangkan keelokan Hawa.

"Ah, apa-apaan aku ini."

Masih saja dia bingung sampai hanya melamun habiskan harinya. Tubuh dimatanya, bak embun yang hanya ia jumpai di daun. Menetes ke tanah, menyegarkan tanaman. Siap untuk berbuah. Tapi apa daya, keresahannya itu kian menyiksa. Tiap harinya hanya mengintip, duduk terlentang tanpa melakukan apa-apa.  

Batu yang biasa dipakai untuk mengkuliti makanannya, diasah hingga tajam. Bahkan debu yang hinggap, terbelah sampai tak terlihat. Seraya berkomat-kamit untuk batu, dia merencanakan sesuatu.

Di semak kembali merumput menjadi bagian tubuhnya hijau, liar, otot tangannya tampak seperti ranting. Binatang, akan terkelabuhi penyamarannya. Dia ahli dalam hal ini, terutama saat memenuhi makan daging.

Dari depan matanya, Sunaf yang terlentang seperti bangkai pohon dibelakangi Adam yang sedang memetik buah-buahan. Tentu, bukan apel terlarang itu. Kadang sempat jengkel untuk mengingatkan berkali-kali kepada Hawa untuk tidak menyentuhnya. Ular yang kerap mengajak pasangannya bercengkrama membuatnya cemburu. Tapi Adam yang seorang pemalu, hanya bisa mengusir ular, tak berani membunuh. Siapa yang berani dengan iblis? Mungkin, takut racun bisa-nya.

"Ah, pas sekali. Mungkin Hawa butuh seorang yang baru. Lagipula, mereka tidak banyak bicara. Ah, mungkin aku bisa membahagiakannnya. Mereka datar sekali hidupnya. Semua serba ada. Sesekali perlulah ada air mata."

"Jreb.." Darah mengucur dari punggung adam. Belum cukup, sunaf menarik sebelum melepas batu tajam itu hingga mengoyak tulang. "Krak..."

Adam gontai, sampai jatuh tak sadarkan diri. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. "Ah, aku makan saja daripada mubazir. Sepertinya dagingnya enak. Lumayan untuk buruan hari ini. Makan malam besar."

Bulan benderang, burung kian memeluk sarang sambil melindungi anak-anaknya yang baru saja menetas. Sementara auman raja hutan meninggalkan kekuasaannya sampai pagi menjelang, mendekap goa singgasananya yang tak ada yang berani memasuki. Sunaf sekalipun, putera hutan yang seorang diri.

Hanya hawa yang masih gelisah, malamnya tak disambut mimpi, lantaran sibuk mencari Adam yang hilang sejak siang tadi. Sejak saat itu, awan punya teman. Air mata Hawa menetes ke tanah, berbaur dengan ranjang jerami di kediamannya yang tak lagi hangat. Dingin, sendiri.

(Bersambung)



Kamis, 29 November 2012

Berkencan Makhluk Asing

Perempuan itu sodorkan gelas kepadaku. Di sebuah pesta malam, kami tidak sengaja berhimpitan di kerumunan para pesolek dan bergincu. Sementara kami milih mendekati kolam renang.

Drum n' bass berdegub kencang mulai sayup-sayup lantaran kami menjauh dan terlibat percakapan yang menyenangkan.

"Aku tidak suka keramaian, hanya memenuhi undangan teman saja. Kamu bersama?" Tanyaku dijawab topik lain, tetapi tetap bergulir. Pesta ini membiarkan orang asing saling kenal. Tapi, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun. Dini hari, tepat gerhana bulan berakhir berotasi tampaknya ia bergelagat ingin pergi. Aku berusaha mempertahankan percakapan ini.

"Ada yang menunggu?"

"Iya, mungkin aku sekarang telat. Apa boleh buat?"

Ah, mungkin memang dia sudah berkeluarga. Atau bersama pasangannya di sudut rumah minimalis ini. Tampaknya ia tidak semuda itu. Aku mulai disergap beribu pertanyaan.

"Mungkin, tinggalkan nomor telponmu, semoga kita bisa bertemu atau email atau bisa tahu nama lengkapmu?" Harapku kian cemas. Tak kunjung dibalas jawaban.

Blazer hitam yang dipakainya kian tak terlihat, ia mundur pelan mengaba cium jauh dari tangan dan menghilang memasuki pintu. Sebuah cahaya kedap kedip dari kejauhan. Dia menaiki pesawat yang tertutup dedaunan. Itu terakhir aku melihatnya. Sepertinya dia memang makhluk asing.

@GarnaRaditya

Selasa, 20 November 2012

Gagal ke Luar Angkasa

Saat bangun aku teringat semalam ada yang menyusup ke kamarku. Tidak begitu jelas, dengan setengah sadar ada yang memandangku. Tapi tiba-tiba sosok itu hilang seketika.

Aku mengira itu mungkin hanya sisa mimpi yang sedang terjadi atau pencuri masuk. Tetapi, tidak ada barangku yang hilang. Tapi ah, rumahku terbilang aman untuk dimasuki penyusup. Lagipula aku masih belum sadar betul.
Aku tahu sedang sendirian saat itu. Seluruh keluargaku pergi liburan. Pikiranku kemana-mana, jangan-jangan hantu?

***

Pukul 02.35, sinar berkelebat diluar. Suara pesawat mendengung terdengar samar-samar, mahkluk itu masuk kamar. Gara-gara kejatuhan cicak, kaget lantas pergi mengurungkan niatnya, untuk menculik remaja yang sedang sendirian itu.


@GarnaRaditya

Sabtu, 03 November 2012

Menyuapi Kembang

Untuk makan malam dengannya, terkadang merepotkan. Tapi momentum bertemu merupakan kesempatan berharga, tidak sembarang waktu.

Aku harus mencari bahan makanan sesuai yang ia pinta. Maklum, dulu aku yang sering minta dimasakin. Masakannya selalu lezat. Kalau sudah begini, jadi terkenang saat dulu kencan terbatas karena jam malam, tapi kini bisa sampai larut.

Sepi dan gelap. Itu yang harus aku biasakan untuk saat ini. Hampir sama seperti dulu kalau kita tidak menyukai keramaian, lebih suka yang tempatnya tenang. Kali ini memang benar-benar sunyi senyap.

Sudah aku jalani ini sejak 2 tahun lalu. Aku menyuapinya kembang tujuh rupa dan membersihkan nisannya dengan air beras. Kadang, aku merasa...ahh...hanya kedinginan saja. Selebihnya, hanya ingin segera pulang setelah selesai semua.

@GarnaRaditya

Jumat, 26 Oktober 2012

Menikahi Cermin

Sebuah cermin yang cukup tua usianya tergantung di dinding rumah. Penghuni baru merasa beruntung dengan keberadaan benda berbentuk bulat itu. Antik, jarang ia temui sejauh melihat cermin yang ada.

Tidak ada bingkai atau ukiran, sebuah cermin lonjong sepanjang 1 meter. Setelah dibersihkan dari debu, wujudnya seperti baru. Ia pindahkan posisi di ruang tamu. Hanya itu yang tersisa di rumah yang telah lama tidak ditinggali. Untuk sebuah tempat tinggal, terlampau bersih yang membuatnya memilih rumah yang dekat dengan jalan raya, dikelilingi gedung perkantoran. 


Suatu ketika ia memandang cermin. Melihat dirinya ia sesekali merasa dirinya yang tampan, memiliki jabatan karier yang tinggi dan keberuntungan lainnya. Ia merasa tenang saat melihat dirinya di cermin.


Undangan ia sebarkan. Pernikahannya yang sederhana itu menggembirakan kerabat dan keluarganya meski tidak tahu persis siapa pasangannya. Hanya sebuah nama tertera di undangan. Para tamu datang dengan penuh tanda tanya. Seperti sebuah helatan makan malam, pikir mereka. Ia muncul ditengah meja panjang sambil tersenyum mendekap cermin. 


"Perkenalkan, ini istri saya". 


Ia pandang cermin itu sambil tersenyum, melihat dirinya yang tampan itu sebagai mempelai.


@GarnaRaditya

Terpasung Mimpi


Ada suara berderik, tiap jendela di kamar terkena angin. Biasanya memang aku buka untuk sirkulasi udara. Kalau sudah terdengar terus-terusan, serasa ada yang mengajak bicara. Aku ucapkan selamat pagi kepada suara itu.

Sudah sore, tidak ada angin tidak ada suara jendela. Gerimis yang membasahi tanaman diluar, menandakan aku harus menutup jendela supaya air tidak memasuki ruang. Listrik mati, aku hanya rebahan di tanah lembab sambil memandangi tetesan yang bergulir di kaca jendela. Aku tertidur lagi.

Gelap, listrik untuk satu bohlam didalam tak kunjung menyala. Hanya hawa sejuk pascahujan menyelimuti. Suara derik jendela itu terdengar, sekali dua kali, dan seterusnya. Itu suara merdu bagiku.

Melihat ke atap, kadang aku melihat bintang dan bulan. Cerah sekali. Seperti aku berada rimbunan pohon, tapi nyatanya aku diatas pasir pantai, dengan terdengar ombak yang menggulung. Aku tertidur lagi, bangun dipuncak atap gedung, dan tidur lagi berharap kerangkeng di kakiku mengarat dan melepaskan aku.

@GarnaRaditya

Rabu, 26 September 2012

Menanam Rambut


Tiap kali sudah panjang, rasanya gerah apalagi pada musim kemarau ini. Rambutnya yang tergerai dengan indah itu akan dipotongnya, apalagi ia juga ingin merasakan suasana baru, yang kata orang, mendapatkan kesegaran dalam penampilan dan beraktivitas.

Namun kadang, ia masih ragu dengan rencana pemotongan rambutnya. Sudah dipelihara sekitar 5 tahun lalu. Rajin dirawat, bahkan tak sedikit pria tercuri perhatiannya.

Sore, ia menggemburkan tanah di pekarangan. Seorang tetangga yang selalu menjadi rekan tukar pikiran dalam hal tanaman itu penasaran.

"Wah, rambur baru, cantik! Sepertinya tanamannya juga nih?" Tanya tetangga.

"Aku sedang menanam rambutku. Kalau sudah panjang kan bermanfaat jika ada yang membutuhkan. Daripada mereka membuat takut banyak orang dengan rambut yang acak-acakan."

@GarnaRaditya

Rabu, 09 Mei 2012

Pemburu Tawa


Sejak pertama kali Santi mengetahui ayahnya menikah lagi, gadis itu berhenti tertawa. Otot bibirnya menegang dan seringkali ia merasakan nyeri. Gadis itu kemudian memutuskan untuk memburu tawa dimanapun ia berada.

Night club menjadi teman malamnya, disana banyak sekali orang tertawa, tapi bukan dia. Acara komedi di televisi ia tongkrongi, penonton tertawa menjadi-jadi, tapi bukan Santi. Berbagai tempat lain-pun ia sambangi, tapi hausnya akan tawa seolah tak pernah terobati.

Hingga di suatu hari, tepat pada ulang tahunnya di bulan Mei, sebuah mobil putih menjadi hadiah terindah bagi Santi. Mobil itu mengantarkannya ke sebuah tempat dimana ia menemukan kembali tawanya, tempat dimana tawanya menyatu dengan tawa lepas lainnya. Gerbang tempat itu bertuliskan ‘Rumah Sakit Jiwa’.

Devi Hermasari

Kamis, 03 Mei 2012

Pengagum Senja


Sudah lama aku tidak keluar dari tempat ini. Sesekali melihat diluar sana tampak terang sekali meski malam hari. Terlebih lagi pagi maupun siang, sinarnya menyakitkan.

Sesekali mengintip dari lubang kecil sebuah jendela. Entah kenapa sinar matahari hanya saat sore tak begitu silau. Malahan, aku ingin keluar untuk menikmati barang sejenak keindahan senja.

Pukul 17.20 aku nekat keluar sambil tertatih. Belum lima langkah, aku sudah lemas. Sengaja menahan diri menghentikan perilakuku ini. Tubuhku mengering, terpaksa darah ku isap sendiri. Sebelum menutup mata, aku berhasil melihat matahari tenggelam untuk terakhir kalinya, demikian juga aku berhenti memangsa manusia.

 

Selasa, 07 Februari 2012

Kematian Pers


Lowongan kerja wartawan dibuka dimana-mana menjelang 2014. Iklan digencarkan untuk memenuhi pekerja perusahaan yang akan dibangun. Syaratnya, siapun yang membutuhkan uang.

Pemimpin redaksi telah dipersiapkan hingga redaktur pelaksana untuk mulai menyelenggarakan agenda liputan harian.

Tak ada lagi memasang poster, umbul-umbul atau melalui selebaran. Pencitraan mulai dibangun melalui konvergensi teknologi.

Dalam sebuah pertemuan, pejabat mencairkan aliran dana. Kongsi kepada perusahaan koran, online, radio hingga televisi. Semua partai politik mendirikan perusahaan media sendiri.