Tampilkan postingan dengan label sci-fi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sci-fi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

Salah Kode Morse

Suara pintu berderit berkali-kali. Kamar sebenarnya terang tapi selimut yang telah menutupi seluruh tubuhku ini tetap menahan untuk tidak mengintip.

Apa barangkali adik yang sedang iseng, atau mungkin ada angin kencang. Seluruh pertanyaan bercampur rasa takut menggenapi keinginan untuk kencing yang sudah ditahan bermenit-menit. Padahal ini kamarku sendiri kenapa aku harus takut, lagipula masih ada orang lain di rumah ini.

Tetapi derit itu terus berbunyi, konsisten dengan jeda dan waktu henti secara berkala. Aku tetap tidak berani beranjak. Sementara keringat terus menetes dari keningku menguap, sebab seluruh badan semakin panas. Sedikit udara untuk menghirup.

Sejak kedatangan pesawat misterius itu, aku bersedia menunggu mereka untuk menjemput. Padahal barang bawaanku sudah aku siapkan. Namun keinginanku pergi dari bumi ini telah sirna, aku tidak tahu kalau itu adalah kode morse dari mereka melalui suara derit pintu itu. Aku menyesal, kenapa dulu tidak pernah pergi ekstrakurikuler pramuka.

@GarnaRaditya

Kamis, 29 November 2012

Berkencan Makhluk Asing

Perempuan itu sodorkan gelas kepadaku. Di sebuah pesta malam, kami tidak sengaja berhimpitan di kerumunan para pesolek dan bergincu. Sementara kami milih mendekati kolam renang.

Drum n' bass berdegub kencang mulai sayup-sayup lantaran kami menjauh dan terlibat percakapan yang menyenangkan.

"Aku tidak suka keramaian, hanya memenuhi undangan teman saja. Kamu bersama?" Tanyaku dijawab topik lain, tetapi tetap bergulir. Pesta ini membiarkan orang asing saling kenal. Tapi, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun. Dini hari, tepat gerhana bulan berakhir berotasi tampaknya ia bergelagat ingin pergi. Aku berusaha mempertahankan percakapan ini.

"Ada yang menunggu?"

"Iya, mungkin aku sekarang telat. Apa boleh buat?"

Ah, mungkin memang dia sudah berkeluarga. Atau bersama pasangannya di sudut rumah minimalis ini. Tampaknya ia tidak semuda itu. Aku mulai disergap beribu pertanyaan.

"Mungkin, tinggalkan nomor telponmu, semoga kita bisa bertemu atau email atau bisa tahu nama lengkapmu?" Harapku kian cemas. Tak kunjung dibalas jawaban.

Blazer hitam yang dipakainya kian tak terlihat, ia mundur pelan mengaba cium jauh dari tangan dan menghilang memasuki pintu. Sebuah cahaya kedap kedip dari kejauhan. Dia menaiki pesawat yang tertutup dedaunan. Itu terakhir aku melihatnya. Sepertinya dia memang makhluk asing.

@GarnaRaditya

Selasa, 20 November 2012

Gagal ke Luar Angkasa

Saat bangun aku teringat semalam ada yang menyusup ke kamarku. Tidak begitu jelas, dengan setengah sadar ada yang memandangku. Tapi tiba-tiba sosok itu hilang seketika.

Aku mengira itu mungkin hanya sisa mimpi yang sedang terjadi atau pencuri masuk. Tetapi, tidak ada barangku yang hilang. Tapi ah, rumahku terbilang aman untuk dimasuki penyusup. Lagipula aku masih belum sadar betul.
Aku tahu sedang sendirian saat itu. Seluruh keluargaku pergi liburan. Pikiranku kemana-mana, jangan-jangan hantu?

***

Pukul 02.35, sinar berkelebat diluar. Suara pesawat mendengung terdengar samar-samar, mahkluk itu masuk kamar. Gara-gara kejatuhan cicak, kaget lantas pergi mengurungkan niatnya, untuk menculik remaja yang sedang sendirian itu.


@GarnaRaditya

Selasa, 03 Januari 2012

Selamat dari Badai Matahari


Sudah 1 tahun lebih ia mendekam di penjara atas dakwaan korupsi. Setelah melalui pemeriksaan intensif serta mengajukan banding, ia mendapatkan keringanan hukuman. Kini mempersiapkan untuk menghirup udara bebas.

Keinginan bertemu keluarga dan kerabatnya semakin besar. Ia telah  membendung rindu dan tak sabar untuk keluar dari sel tahanan. Mereka percaya bahwa dirinya tak pernah melakukan penggelapan dana banggar seperti apa yang dituduhkan.

Selama masih mempunyai harta, ia bisa melakukan apapun.

Barang-barangnya telah ia bawa, namun tak ada anggota keluarga yang menjemputnya, padahal ia telah mengabarkan jauh-jauh hari. Gerbang setinggi 5 meter penuh dengan pengamanan ketat itu pun terbuka. Pandangan matanya hanya melihat hamparan tanah yang kosong. Melihat kebelakang pun demikian.

Sejak bumi diterjang badai matahari beberapa waktu lalu, semua makhluk hidup menemui ajalnya. Ia selamat, sendiri.

Senin, 10 Oktober 2011

Dunia Paralel pt.2


Mereka berdua tak begitu kenal, hanya saja kerap bertemu karena bekerja di satu gedung. Tak sengaja berpapasan di lantai 23 tempat kantor mereka masing-masing. Melewati lorong ruangan hingga didepan pintu lift, hanya tersenyum satu yang lainnya.

Diruang lift itu hanya mereka berdua. Tiba-tiba terlontar pertanyaan secara bersamaan. "Ngelembur ya?" Mereka saling tersipu karena bertanya hal yang sama.

"Sudah makan?" pertanyaan dengan waktu yang bersamaan kembali terjadi. Mereka kembali menahan tawa.

"Ok, kamu dulu,"

 "Ahh..baiklah kamu dulu"

Semua pernyataannya yang terlontar masih sama. Sementara mereka masih melewati lantai 12 kembali terdiam dan mulai kebingungan.

Sang wanita, berpikir, pria itu memang menarik tapi malu menyapa jika berpapasan. Begitu juga sang pria memendam keinginantahuan untuk berkenalan. Mereka kemudian berpisah di parkiran dan belum terjadi pembicaraan.

Keduanya ialah satu jiwa yang sebenarnya digariskan sebagai jodoh, hanya saja salah satunya berasal dari dimensi lain namun terjebak pada lipatan dimensi nyata.

Garna Raditja

Sabtu, 10 September 2011

Makhluk yang Kesepian

Sudah beberapa minggu ini, Tarja berdiam diri di kamarnya. Lantaran mengalami patah hati yang membuat dirinya tidak produktif dalam sehari-harinya dan berpikir untuk mengakhiri hidup.

Malam itu ia masih di kamarnya. Menengok jendela, menarik dirinya ke balkon sambil melihat langit. Ia berandai-andai jika bisa pergi sejauh mungkin untuk melupakan masa lalunya.

Sebuah suara mendengung, makhluk itu mengetuk jendela kamarnya. Sontak, membuat ia kaget dan ketakutan seraya teriak bertanya kepada sosok itu.

"Tenang, aku tidak menyakitimu. Maaf jika membuatmu takut. Aku hanya ingin mengobrol saja," ujar makhluk tinggi kurus itu. Tarja sendiri sedari tadi juga membutuhkan teman untuk berkeluh kesah, tapi ia semakin bingung.

Melalui pintu kamar dari balkon, makhluk itu mendekatinya. Sedangkan Tarja masih ketakutan, sambil pelan-pelan berusaha untuk menerima kedatangan makhluk itu. "Aku masih belum mengerti kenapa aku ditinggal tanpa pesan olehnya. Aku bingung entah kemana untuk melupakan perasaan ini. Aku sendiri tidak tahu aku ini dimana," keluh mahkluk itu.

Tarja mulanya kebingungan, ia pikir, makhluk ini tersesat dan mengalami hal yang sama. Beberapa menit kemudian, mereka saling bercerita mencurahkan hatinya masing-masing hingga berjam-jam hingga obrolan mereka semakin larut dari hati ke hati.

"Boleh aku ikut kamu?"

"Ya, mari kita pergi dan menyesatkan diri"

Piring terbang itu melaju kencang, meninggalkan bumi. Keinginan Tarja terpenuhi.

Garna Raditja

Kamis, 18 Agustus 2011

Mesin Waktu


Mesin waktu yang dirancang berpuluh-puluh tahun itu sudah mendekati sempurna. Dengan menggunakan teknologi ilmiah yang hampir tak dipahami semua orang, di tahun 2011 ini, Ia ingin melihat keadaan bumi 200 tahun mendatang.

Ruang berbentuk tabung 2 meter itu siap untuk dicoba. Hanya dia sendiri yang harus melakukan percobaan, ia pun mempersiapkan segala sesuatunya. Dan yang terpenting ialah dokumentasi untuk mengabadikan keadaan dimasa depan.

Mesin dinyalakan, tak selancar yang dikira. Mesin penghubung tabung itu bergetar. Terjadi goncangan, hingga membuat ia kehilangan kendali dan pingsan. Terjadi begitu cepat. Saat siuman, ia melepaskan alat-alat yang menempel ditubuhnya. Saat membuka pintu tabungnya itu, ia tercengang. Pandangan matanya berbeda dari tempat semula.

Ia amati sekelilingnya dengan keadaan masih linglung. Tak ada apapun, hanya ruang kosong yang membentang. Sinar pun demikian, sedikit petang. Dalam hati, ia telah berhasil menembus waktu. Ia tak peduli keadaan sekitar, yang terpenting mengambil video dan memfoto. Selepas itu kebingungan.

Mesin penghubung tabung itu tak ikut serta, yang artinya ia tak bisa kembali. Meski begitu, bumi telah luluh lantak akibat badai matahari dan menabrak rotasi planet Nibiru tepat pada 21 Desember 2012. Bumi yang ia kenal, sudah tak ada lagi, hanya bentangan daratan luas berdebu.

Garna Raditja

Minggu, 23 Januari 2011

Warung Kopi

Lelaki itu tak kunjung sampai di perbatasan Semarang, tujuan kepergiannya. Dengan mata lelah dan sayu ia terus kemudikan motornya yang buluk. Saat dalam perjalanan ia berpikir untuk mampir di sebuah warung kopi mengatasi rasa kantuk.

Saat memikirkan demikian, ia melihat sebuah warung di belantara alas yang dilewati. Sudah tengah malam, ia berpikir masih ada warung yang buka. Tanpa berpikir panjang, ia berhentikan motornya. Seorang lelaki, yang melayani tawarkan kopi."Ini adalah kopi kebahagiaan. Jika meminumnya kau teguk riang dan gembira", ujarnya.

Pria itu kebingungan."Yang penting aku bisa meneruskan perjalanan, hilangkan kantuk,"tegasnya. Pramusaji itu sajikan kopi, ia meminumnya dengan menyulut sebatang rokok kretek. Seusainya, ia lanjutkan perjalanan. Saat pagi tiba, ia terbangun masih di warung itu dan menjadi pramusaji yang memberikan kopi. Begitu seterusnya yang terjadi kepada orang lain jika ada yang mampir di warung tersebut.

Garna Raditja

Kamis, 23 Desember 2010

Kiriman Dari Ungaran

Setelah semalam Semarang diguyur hujan deras, banjir pun tak terelakkan. Hampir semua pedagang kaki lima di simpang lima minggu pagi kali ini agak kerepotan membersihkan sisa sampah yang mengendap menggunung di sudut-sudut trotoar setelah banjir surut berupa ribuan kaos yang seolah-olah tercabik benda tajam yang ternoda oleh darah dan berbau anyir. Mereka heran darimana sampah-sampah kaos berdarah yang jumlahnya ribuan itu berasal. 

Tiba-tiba salah seorang pedagang berteriak ketakutan setelah membaca sebuah pengumuman di koran. Ternyata sampah kaos berdarah itu berasal dari sisa pembantaian massal semalam yang dilakukan oleh para alien untuk melakukan pemusnahan manusia secara besar-besaran dan Ungaran adalah wilayah pertama yang mereka habisi. 

Kalangan media memberi ultimatum kepada seluruh warga Semarang untuk mencari tempat perlindungan secepat mungkin. Rombongan polisi anti huru hara dan tentara militer terlihat telah bersiap dengan persenjataan mereka karena pesawat alien terlihat telah menggelapkan awan di atas bundaran simpang lima.

Minggu, 31 Oktober 2010

Dunia Paralel

Gia hidup sebagai perempuan yang penuh kebahagiaan. Lahir dari keluarga berada, cantik, pintar dan akan segera menikah dengan seorang pemuda kaya. Namun dimensi lain ia menjadi orang  hilang ingatan yang hidup di pinggir jalan.

Suatu hari, ia bersiap untuk hari bahagianya. Seluruh keluarga yang berdarah biru itu adakan pesta pernikahan secara besar-besaran. Sedangkan Gia yang dipinggir jalan mengatakan hal yang sama seperti Gia yang disana. Namun karena berbeda dunia, Gia seperti halnya orang hilang ingatan yang berbicara sendiri, dianggap gila banyak orang.

Gia menyusuri trotoar karena kelaparan. Ia melihat sebuah apel yang jatuh di tengah jalan dan mengambil pada lalu lalang kendaraan. Truk oleng, panik melihat gadis compang-camping itu di tengah jalan.

Sementara itu, Gia yang menuju pelaminan akan berucap janji kepada sang pria di depan pendeta. "Saya akan menemani dalam suka dan...". Tiba-tiba Gia dengan gaun panjang itu tergeletak tanpa sadar. Para tamu panik, dan calon suaminya mencoba membangunkan namun tak ada nafas yang terhembus.

Keduanya di masing-masing dimensi meninggal secara bersamaan. Supir truk melarikan diri, sang calon suami hilang ingatan akibat depresi.

Garna Raditja