Tampilkan postingan dengan label surreal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surreal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

Menjadi Duta Besar


Penjagaan cukup ketat, bagi yang tinggal di rumah mewah seperti ini pastinya akan bahagia. Cukup jauh dari realita ibukota  sebenarnya. Namun memasuki rumah kedutaan besar negara adidaya merupakan sebuah salah satu pengalaman yang jarang. Dalam sebuah tugas liputan merupakan salah satu cara mendapatkan akses untuk masuk rumah besar ini.

Beberapa aparat keamanan mengamati satu persatu foto dan nama daftar undangan, termasuk wartawan yang akan meliput. Berhasil masuk dengan tersisa geledahan tasku yang diobrak-abrik. Sambil terasa kikuk, penjaga mengantar masuk ke dalam rumah.
Dalam suasana asing tersebut, para ekspatriat dan pejabat bercengkrama membicarakan sesuatu yang serius. Diselingi ketawa-ketiwi sembil menenggak wine.

Aku ambil satu gelas, menenggak kegirangan karena jarang minum mahal seperti ini. Rasanya sepet. Acara dimulai dengan kata pembuka sang duta besar yang tidak sepenuhnya aku pahami. Nanti aku lihat di siaran pers saja untuk bahan tulisan.
Acara berlanjut lagi dengan makan malam, diantaranya ada yang berdansa-dansi dengan iringan piano yang bersuara nyaring di tengah ruang yang agaknya kerap dipakai keluarga duta besar ini menghabiskan waktu. Ada tumpukan buku, penerangan yang artistik. Andai kelak nanti punya ruangan seperti ini.

Semua sibuk, aku meninggalkan kerumunan untuk mencari toilet. Sambil bertanya pelayan rumah, petunjuknya yang terlalu menegaskan besarnya rumah ini. Entah mungkin kesasar, aku sudah jauh dari orang-orang. Aku masuk sebuah kamar, ah kamar sang duta besar. Entah apa yang membawa aku untuk berbaring di ranjang empuk besar ini. Setelah aku kunci kamarnya, aku melepaskan semua pakaian, laiknya pemilik kamar ini.

Sambil memandang langit yang beratap lukisan gaya renaissance, mata kian berat apalagi sudah meliput sejak pagi tak sempat untuk istirahat.

Sinar matahari mulai muncul dari bilik jendela. Ya ampun, sudah pagi. Sebelahku istri duta besar! Kepanikan ini semakin menyeramkan saat aku keluar dari kamar mereka menyambutku dengan bahasa asing. Aku dipersilahkan untuk sarapan, di meja makan sudah tersedia berbagai makanan ala barat.

Aku tahu ini tidak nyata, tetapi cermin yang ada di depanku meyakinkan bahwa aku adalah sang duta besar. Kemana aku? Aku ingin berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi aku tidak lancar berbahasa asing.

Beberapa hari kemudian aku dibawa ke psikiater, aku dianggap ada gangguan mental. Sebab aku lancar berbahasa Indonesia. Mereka menganggap itu hal yang tak wajar.

Garna Raditya

Kamis, 21 November 2013

Suara Pemotong kuku

Pada hari dan jam tertentu, suara itu terdengar dari luar. Berbunyi dengan irama yang tak tentu, seperti pemotong kuku. Tetapi suara itu kian mengusik, berulang-ulang sepertinya kuku yang dipotong begitu panjang, milik siapa itu?

Belakangan, suara sayup-sayup itu berasal dari atap rumah. Memeriksa pun terlampau merepotkan. Tiap malam selalu diliputi rasa penasaran.


Iseng, siang hari menaiki loteng. Ia mendapati potongan kuku, tercecer dimana-mana. Bentuknya berbeda dengan kuku manusia, warnanya buram, bersisik.


Sosok besar, mata merah berbulu hitam dihadapannya. Masih memotong kukunya yang panjangnya sekitar satu meter.


"Hei jelek! Bersihkan engga? Aku potong sekalian lho bulumu."


Seketika, dengan gontai mahkluk itu membersihkan potongan kukunya sambil diawasi. Menunduk dan menghilang, tak berani melihat mata perempuan itu.


Selasa, 17 September 2013

Anak Pohon

Setelah sekian lama, temannya diajak ke apartemen mewah, tempat ia tinggal yang dikelilingi lahan hijau. Sebuah tempat di pinggiran Ibukota yang mulai banyak dibangun gedung-gedung serupa. Bagi dirinya yang tak pernah merasakan serba mewah membuatnya kagum.

"Yuk, renang," kata Alfo mengajak sahabat karibnya, Bian, yang berasal dari keluarga pas-pasan itu menyambut riang. Apalagi dirinya jarang bisa renang.

Dikeriangan saat bermain itu, Bian seperti menyimpan sesuatu yang membuat Alfo bertanya-tanya dengan wajah gusarnya. Ia keluar dari air dengan tergesa-gesa.

"Kamu tahu, dulu dibawah bangunan ini apa?"

"Kuburan? Haha..kamu menakutiku." Jawab Alfo dengan santai.

"Bukan, tetapi keluarga pepohonan."

"Lalu kenapa?"

"Aku anak dari mereka."

Teman Tidur

Bangun selalu tepat pada terik matahari yang sedang menguning. Badan kepanasan dengan kipas angin yang terus menyala merupakan salah satu alasannya terbangun.

Belum minum air putih sejak haus sepanjang tidur, rokok justru menempel di bibirnya yang menghitam. Wajahnya, pengap, tak ubahnya seperti ruangan kosnya yang hanya cukup dengan lemari dan kasur tanpa ranjang.

"Ah, telat kuliah lagi. Kalau begini terus tak lulus-lulus."

Kebiasaannya saat malam begadang tanpa melakukan apa-apa mengancam siklus hidupnya. Ia lantas berpikir apa yang bisa dilakukan supaya segera mengantuk?

Ia membeli cermin panjang, diletakkan horisontal di dinding sebelah kasur. Sejak saat itu ia sering bangun pagi sambil mengucapkan salam dan tersenyum memandangi sebelahnya. Kini ia memiliki teman tidur yang membangunkan dirinya tiap pagi.

Kamis, 20 Juni 2013

Benci Cerita Cinta

Seakan semua orang kesepian, hanya mengasihani diri. Terutama disaat hujan, meratapi tentang dirinya yang  harinya tidak pernah bahagia. Kalau sudah melankolia, cinta dan rindu hanyalah tema yang ada.

Barangkali para penyair itu memang orang kesepian. Menjual tentang cerita cinta yang diulang-ulang, pembacanya tentu saja yang sedang patah hati atau yang sedang sedih dengan sesuatu.

Jolan menggerutu sendiri tiap malam, seperti ada yang mampat dalam angannya.

Suatu ketika, ia merasa sedang diperhatikan. Jolan seolah tidak peduli, bahkan balasan senyuman maupun tatapan mata itu tidak dihiraukan. Ia sengaja, masih muak dengan perasaan emosional yang serupa. Maklum, trauma dengan masa lalunya ditinggal tanpa pesan cukup membuatnya naik berat badannya.

Di tempat yang sama, hingga kali ini sudah belasan kali menjumpainya lagi. Sorotan matanya yang tajam kian membuat terasa seram. Kesal, ia hampiri dengan geram.

"Kamu...hei! Kamu siapa...Jangan membuntuti saya terus ya!"

Pohon didepannya itu tak menjawab apa-apa

@GarnaRaditya

Senin, 07 Januari 2013

Sendiri di Bumi

Untuk mengawali cerita perdana di tahun 2013 ini, saya akan sematkan satu judul dalam format cerpen. Sebagai penghela nafas untuk mereguk suasana baru. Anggap saja sebagai bonus. Cerbung horor ini akan tetap bergulir ditengah fiksi kilat yang akan terus berjalan. Selamat menikmati!

***

Dia sendirian di belantara hijau. Udara yang terhirup masih sejuk, belum ada polusi yang menyengat hidungnya saat bangun pagi.

Kadang Sunaf di ujung jurang, tiba-tiba sudah berenang di lautan sambil menyapa karang. Cari makan sekalian. Hidupnya terpenuhi dari kebebasan yang ia miliki.

Sunaf tidak pernah merasa sendiri, karena angin adalah teman akrabnya, bicara dari desiran. Apalagi hujan, serasa mendengarkan orkestra ketika butuh ketenangan.

Tak jauh dari pohon yang ia rebahi, pasangan yang konon disebut Adam dan Hawa itu hidup di sebuah taman yang disebut Eden. Mereka tidak terpisahkan, serasa dunia milik berdua.

Yang tiap kali Sunaf membuat menelan ludah, mereka berdua telanjang. Apalagi saat hawa sedang tiduran di bawah pohon, dia amati lekuk tubuhnya yang sintal. Amboi, Sunaf pikirannya memang nakal.

Sementara disaat Adam tengah sibuk berburu buah, dia berusaha mendekat pada Hawa beberapa jengkal berselimut belukar, memastikan bisa memandang keelokan matanya yang tertutup.

Bisa sampai berjam-jam. Kadang birahinya muncul, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti gunung yang mau meletus, instingnya hanya seperti kepulan asap tebal ala bulu domba yang kusam. Tak kunjung meletup.

Hawa rambutnya panjang, sampai menutup pantatnya yang hampir kemerah-merahan. "Duh seperti apel, rasanya ingin aku gigit lemas, separuh saja boleh lah."

Hingga atap perutnya yang seperti gelembung air, ingin ia renangi sampai pada pulau yang tertuju. Begitu liar Sunaf membayangkan keelokan Hawa.

"Ah, apa-apaan aku ini."

Masih saja dia bingung sampai hanya melamun habiskan harinya. Tubuh dimatanya, bak embun yang hanya ia jumpai di daun. Menetes ke tanah, menyegarkan tanaman. Siap untuk berbuah. Tapi apa daya, keresahannya itu kian menyiksa. Tiap harinya hanya mengintip, duduk terlentang tanpa melakukan apa-apa.  

Batu yang biasa dipakai untuk mengkuliti makanannya, diasah hingga tajam. Bahkan debu yang hinggap, terbelah sampai tak terlihat. Seraya berkomat-kamit untuk batu, dia merencanakan sesuatu.

Di semak kembali merumput menjadi bagian tubuhnya hijau, liar, otot tangannya tampak seperti ranting. Binatang, akan terkelabuhi penyamarannya. Dia ahli dalam hal ini, terutama saat memenuhi makan daging.

Dari depan matanya, Sunaf yang terlentang seperti bangkai pohon dibelakangi Adam yang sedang memetik buah-buahan. Tentu, bukan apel terlarang itu. Kadang sempat jengkel untuk mengingatkan berkali-kali kepada Hawa untuk tidak menyentuhnya. Ular yang kerap mengajak pasangannya bercengkrama membuatnya cemburu. Tapi Adam yang seorang pemalu, hanya bisa mengusir ular, tak berani membunuh. Siapa yang berani dengan iblis? Mungkin, takut racun bisa-nya.

"Ah, pas sekali. Mungkin Hawa butuh seorang yang baru. Lagipula, mereka tidak banyak bicara. Ah, mungkin aku bisa membahagiakannnya. Mereka datar sekali hidupnya. Semua serba ada. Sesekali perlulah ada air mata."

"Jreb.." Darah mengucur dari punggung adam. Belum cukup, sunaf menarik sebelum melepas batu tajam itu hingga mengoyak tulang. "Krak..."

Adam gontai, sampai jatuh tak sadarkan diri. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. "Ah, aku makan saja daripada mubazir. Sepertinya dagingnya enak. Lumayan untuk buruan hari ini. Makan malam besar."

Bulan benderang, burung kian memeluk sarang sambil melindungi anak-anaknya yang baru saja menetas. Sementara auman raja hutan meninggalkan kekuasaannya sampai pagi menjelang, mendekap goa singgasananya yang tak ada yang berani memasuki. Sunaf sekalipun, putera hutan yang seorang diri.

Hanya hawa yang masih gelisah, malamnya tak disambut mimpi, lantaran sibuk mencari Adam yang hilang sejak siang tadi. Sejak saat itu, awan punya teman. Air mata Hawa menetes ke tanah, berbaur dengan ranjang jerami di kediamannya yang tak lagi hangat. Dingin, sendiri.

(Bersambung)



Jumat, 26 Oktober 2012

Menikahi Cermin

Sebuah cermin yang cukup tua usianya tergantung di dinding rumah. Penghuni baru merasa beruntung dengan keberadaan benda berbentuk bulat itu. Antik, jarang ia temui sejauh melihat cermin yang ada.

Tidak ada bingkai atau ukiran, sebuah cermin lonjong sepanjang 1 meter. Setelah dibersihkan dari debu, wujudnya seperti baru. Ia pindahkan posisi di ruang tamu. Hanya itu yang tersisa di rumah yang telah lama tidak ditinggali. Untuk sebuah tempat tinggal, terlampau bersih yang membuatnya memilih rumah yang dekat dengan jalan raya, dikelilingi gedung perkantoran. 


Suatu ketika ia memandang cermin. Melihat dirinya ia sesekali merasa dirinya yang tampan, memiliki jabatan karier yang tinggi dan keberuntungan lainnya. Ia merasa tenang saat melihat dirinya di cermin.


Undangan ia sebarkan. Pernikahannya yang sederhana itu menggembirakan kerabat dan keluarganya meski tidak tahu persis siapa pasangannya. Hanya sebuah nama tertera di undangan. Para tamu datang dengan penuh tanda tanya. Seperti sebuah helatan makan malam, pikir mereka. Ia muncul ditengah meja panjang sambil tersenyum mendekap cermin. 


"Perkenalkan, ini istri saya". 


Ia pandang cermin itu sambil tersenyum, melihat dirinya yang tampan itu sebagai mempelai.


@GarnaRaditya

Terpasung Mimpi


Ada suara berderik, tiap jendela di kamar terkena angin. Biasanya memang aku buka untuk sirkulasi udara. Kalau sudah terdengar terus-terusan, serasa ada yang mengajak bicara. Aku ucapkan selamat pagi kepada suara itu.

Sudah sore, tidak ada angin tidak ada suara jendela. Gerimis yang membasahi tanaman diluar, menandakan aku harus menutup jendela supaya air tidak memasuki ruang. Listrik mati, aku hanya rebahan di tanah lembab sambil memandangi tetesan yang bergulir di kaca jendela. Aku tertidur lagi.

Gelap, listrik untuk satu bohlam didalam tak kunjung menyala. Hanya hawa sejuk pascahujan menyelimuti. Suara derik jendela itu terdengar, sekali dua kali, dan seterusnya. Itu suara merdu bagiku.

Melihat ke atap, kadang aku melihat bintang dan bulan. Cerah sekali. Seperti aku berada rimbunan pohon, tapi nyatanya aku diatas pasir pantai, dengan terdengar ombak yang menggulung. Aku tertidur lagi, bangun dipuncak atap gedung, dan tidur lagi berharap kerangkeng di kakiku mengarat dan melepaskan aku.

@GarnaRaditya

Kamis, 03 Mei 2012

Pengagum Senja


Sudah lama aku tidak keluar dari tempat ini. Sesekali melihat diluar sana tampak terang sekali meski malam hari. Terlebih lagi pagi maupun siang, sinarnya menyakitkan.

Sesekali mengintip dari lubang kecil sebuah jendela. Entah kenapa sinar matahari hanya saat sore tak begitu silau. Malahan, aku ingin keluar untuk menikmati barang sejenak keindahan senja.

Pukul 17.20 aku nekat keluar sambil tertatih. Belum lima langkah, aku sudah lemas. Sengaja menahan diri menghentikan perilakuku ini. Tubuhku mengering, terpaksa darah ku isap sendiri. Sebelum menutup mata, aku berhasil melihat matahari tenggelam untuk terakhir kalinya, demikian juga aku berhenti memangsa manusia.

 

Sabtu, 07 Januari 2012

Dibina Binatang


Kerangkeng itu semakin penuh penghuninya. Tiap akhir pekan banyak dikunjungi warga untuk menonton. Ada pula keluarganya yang ingin menengok melihat keadaan kerabatnya disana.

Sejak diberlakukan penempatan hukuman penjara di kebun binatang, tindak korupsi semakin menurun. Agaknya, peraturan tersebut cukup membuat jera pelakunya. Upaya itu dilakukan setelah hukum konstitusional semakin lemah dengan aksi suap aparat hukum.

Para tahanan itu tinggal satu kerangkeng ditiap jenis hewan untuk dibina. Penempatan dilakukan secara acak, ada yang bersama buaya, monyet, burung hingga ular. Manusia dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Sabtu, 24 Desember 2011

Kado dari Santa Klaus


Ia tak bisa kembali ke negara asalnya untuk merayakan natal, lantaran ia kehabisan tiket pesawat untuk pulang. Padahal sudah jauh-jauh hari telah merencanakan untuk menemui keluarganya.

Dinginnya salju di dalam flat nya yang kecil, ia hanya bisa menatap foto keluarganya berharap bisa membawa kabar baik bahwa dirinya membawa calon istri. Namun, hingga kini ia masih terus melajang dan sibuk dengan pekerjaannya.

Malam natal, ia hanya bisa tercenung di perapian sambil mendengarkan musik. Iseng dia menggantungkan kaus kaki di beranda perapian sebagai hiasan, untuk mendapatkan hadiah dari Santa Klaus yang telah menjadi tradisi turun temurun oleh keluarganya. 

Akibat kelelahan karena kesepian, ia terlelap tidur di sofa depan perapian.

"Brukk…" Jejaka itu terbangun akibat suara seperti benda jatuh. Dengan setengah sadar, ia berusaha memastikan penglihatannya. Matanya terbelalak pada perempuan lucu berambut panjang yang menyeka rambut seraya membersihkan tubuhnya dari abu perapian.

Rabu, 05 Oktober 2011

Taman Ayah dan Ibu


Gadis kecil itu tiap sore selalu rutin menyirami taman di depan rumahnya. Ada Anggrek, Flamboyan hingga tumbuhan apotek hidup. Pesona tanaman yang berwarna-warni memancarkan keasrian rumah sederhana yang dihuninya, membuat iri para tetangga. Namun jika ada yang ingin mengambil tanamannya untuk pengobatan ia akan mengijinkan.

Belakangan, selepas menyiram ia selalu memegang tanah yang basah. Sambil memejamkan matanya, meremas dan menaburkan kembali tanah disekitarnya. Kerap membuat tetangganya bertanya-tanya terhadap hal yang dilakukan gadis berumur 14 tahun itu, terlebih lagi kini jarang melihat orang lain di rumah.

Seorang ibu muda mendekati dirinya sambil bertanya hal yang dilakukannya tiap sore. "Saya kangen Ayah dan Ibu yang berada dibawah tanah ini. Merekalah yang merawat dan memberikan makan saya sehari-hari."

Dipojok taman, wajah kedua orang tuanya yang menyatu dengan tanah itu tersenyum.

Garna Raditja

Senin, 03 Oktober 2011

Menara Kembar


Malam itu ia pulang kerja terlalu larut lantaran melembur. Memasuki lift, sendirian di ruangan sebesar 2x2m tersebut. Saat menekan tombol seraya memandangi sekeliling dalam lift. Terkadang ia merasa tidak sendirian berada disitu, pasalnya salah satu temannya pernah mengatakan hal yang seram tentang hantu gentayangan.

Untuk mengalihkan pikiran yang menakutkan itu, ia berandai-andai saat pintu lift terbuka akan berada di suatu tempat yang diinginkannya. Cling. Suara lift itu menandakan sampai di lantai dasar dan pintunya terbuka.

Tiba-tiba banyak orang berdasi dan pakaian perlente berdesakan memasuki lift, bahkan ia tak bisa keluar karena tertahan. Saat memperhatikan sekelilingnya, orang-orang itu adalah warga asing. Dalam pembicaraan diantara mereka terdengar berbahasa Amerika tulen.

Sambil kebingungan, ia keluar di lantai 20 yang tak ada dilantai kantornya. Saat memandang di kaca jendela terdekatnya, ia melihat rimba gedung pencakar langit terlihat kejauhan patung Liberty. Tertulis sebuah interior ruangan disebelahnya, World Trade Center. Ia juga melihat menara kembar satunya.

Dengan gemetaran ia menanyakan seseorang didekatnya perihal tanggal dan hari. "Sekarang hari Sabtu tanggal 11 September 2011."

Garna Raditja

Minggu, 11 September 2011

Mayhem! (Jangan Beritahu Siapapun!)



Aku mengenal Jan sudah lama, dia adalah seorang gadis muda yang riang di kelasku. Kami sering bercanda, tak jarang canda kami melampaui batas, yang kutahu dari Jan bahwa hal itu telah membuat cemburu
“..aahh, siapa namanya aku sudah lupa”.
Dia adalah pacar Jan, dan aku benci itu, meskipun perasaan tidak suka itu hanya bisa aku pendam.

Suatu hari diruangan kelas, aku kembali bercanda dengan Jan, kali ini candaan kami sangat melampaui batas, kami tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Jan memegang erat tanganku, kemudian menancapkan dalam-dalam kuku di jari-jari tangannya, mencakar-cakar tangan dan tubuhku, aku berteriak ketakutan dan kesakitan, meminta pertolongan pada seisi kelas.
Tetapi seisi kelas hanya diam memandangi saja, aku baru menyadari ternyata aku tak mengenal satupun isi kelas, aku selama dua tahun dikelas ini hanya sibuk dgn Jan tanpa ada waktu sedikitpun untuk mengenal teman-temanku yang ada di kelas.

Aku masih meronta ronta mencoba membebaskan diri dari genggaman dan cakaran-cakaran Jan yang menyakitkan, darahku berleleran dari kuku-kuku jarinya.
Tiba-tiba aku teringat, aku masih menyimpan beberapa butir obat penenang di celanaku.
Kumasukkan paksa beberapa butir tersebut sekaligus ke mulut Jan. Ia hanya sempat mendengus, reaksi obat bekerja, ia mulai oleng dan melepaskan genggaman tangannya.

Pada saat yg bersamaan, entah dari mana datangnya, tiba-tiba salah satu gadis di kelas ini memukul kepala Jan dengan balok kayu, Jan limbung dan ambruk dengan kepala yang berdarah.
Entah kenapa aku senang dan puas.
Aku ingin mengucapkan terima kasih, akan tetapi pandangan mata seisi kelas tiba2 berubah membenciku, mereka menatap sinis, menuduhku telah memukul Jan.

Seisi kelas menudingkan tangannya ke arahku. Aku tak mungkin melakukannya. Aku tak mungkin setega itu terhadap Jan. Pandangan-pandangan mata itu menyalahkanku.

Tiba-tiba gadis yang tadi sudah berada di depanku, menunjuk ke tempat Jan roboh.
Tampak disana Jan mencoba bangkit, memuntahkan obat-obatan yang tadi kupaksa masuk ke mulutnya. Aku benar-benar merasa bersalah dan ketakutan kalau Jan sampai bangun. Dia pasti juga akan menuduhku seperti yang lain.

Aku berlari keluar ruangan kelas. Keadaan di luar semakin membingungkan, aku melihat banyak anak-anak kecil dengan pakaian-pakaian aneh berlari-larian. Salah satunya sibuk membawa dan membagikan jaring-jaring besar untuk menangkap kupu-kupu.

Perasaan bersalah membuatku mengintip ruangan kelas, mencari tahu keadaan Jan.
Kulihat dia masih tergolek dibawah meja, tak seorangpun menghiraukan.
Dan ketika pandangan mataku beralih ke arah kantin disamping kelas, kulihat kekasihku Ran masih duduk menungguku disana.Wajah dan postur tubuhnya sekilas mirip Jan, aku baru menyadari itu.

Teringat Jan yang mengamuk barusan, tiba-tiba aku disadarkan, ini adalah mayhem!
Kamu tidak bisa mengukur dan melihat kelemahan seseorang!

Kamu tidak tahu apa yg sesungguhnya terjadi!

Lalu aku berlari untuk menyelamatkan Ran kekasihku, aku berlari menuju ruangan kantin, yang secara tiba-tiba pula atau aku tidak pernah memperhatikan sebelumnya, ternyata pintunya sangat banyak.
Ku buka satu persatu, aku harus bisa menyelamatkan Ran tepat waktu sebelum Jan menemukannya.

Akhirnya kutemukan ruangan tempat tadi Ran kekasihku menunggu, tak lagi kudapati dia disana.
Hanya ada bekas muncratan darah di pintu yang menghubungkan kantin ini dengan ruangan kelas.
Kuperhatikan muncratan darah ini lebih seksama.

Bukan muncratan darah! lebih mirip getah bening… berceceran di daun pintu. aku bingung.. konspirasi macam apalagi ini? tiba-tiba suara dalam otakku bersorak menemukan jawaban…

Ah, ini adalah mayhem!
Ini adalah mayhem!
Tak seorangpun boleh tahu ketakutanku saat ini.

Jangan beritahu siapapun!
Jangan beritahu siapapun!


Tokoh Antagonist

Minggu, 24 Oktober 2010

Bertemu Katy Perry

Kontrakan itu didiami 5 bujangan. Bekerja hingga malam, membuat mereka kurang hiburan. Sesampainya di rumah, hanya terlentang karena lelah. Mereka memiliki kesukaan imajinasi yang sama, yaitu mengidamkan seorang wanita seperti Katy Perry sebagai pasangan hidupnya. Hampir seluruh dinding tertempel gambar penyanyi itu.

Malam seperti biasa berkumpul, salah satu diantara mereka menyeletuk. "Andai saja disini ada Katy Perry, aku akan rela meninggalkan pekerjaanku," ujar si bujang. "Aku juga!", serentak para bujang.

Semakin larut, mereka kembali ke kamar masing-masing. Tapi kemudian mereka berteriak keluar ketakutan. "Kok ada Katy Perry di kamarku?","Aku juga!", "Aduh kok jadi beneran begini?"," Tapi memang cantik sih", seru mereka sambil berpelukan di ruang tengah. Katy Perry itu berbaju seksi berserebah dengan melambaikan tangan.

Keesokan harinya, kelima orang itu menjadi pengangguran. Dipecat tanpa sebab.

Garna Raditja

Selasa, 19 Oktober 2010

Sepeda Terbang

Seperti biasanya, gerombolan anak muda itu menggowes sepeda tiap Selasa dan Jumat malam. Sepeda yang mereka naiki adalah jenis Fixie yang digandrungi anak muda masa kini. Dicat warna-warni, aksinya memikat hati. Madi dikenal sebagai perakit sepeda. Apapun dia coba untuk mengeksplorasi dengan membongkar sana-sini. Tak puas, ia berpikir bagaimana terbang dengan sepeda fixie. Eksperimen pertama gagal sampai sekarang ini.

"Setannn!" umpat Madi di depan sepeda karena percobaannya gagal. Teriakan itu ternyata mengundang setan berbadan kekar untuk merasuki sepedanya. Esok hari ia bersepeda seperti biasa. Karena melamun, ia tertinggal teman-temannya.Tiba-tiba sepedanya terbang dan membuatnya girang. Namun apa yang dilihat teman-temannya justru membuatnya ketakutan, karena Madi duduk di punggung menunggangi setan yang sedang terbang menuju neraka namun tersasar ke Antartika.

Garna Raditja

Rabu, 13 Oktober 2010

Hantu Stres

Agi adalah pria tanggung yang selalu pulang kerja tengah malam. Menyukai hal-hal tentang luar angkasa khususnya tentang makhluk ekstra-terestrial. Tiap kali melihat langit malam, dia selalu membayangkan dirinya diculik oleh alien. Dia yakin akan datang waktunya karena menurutnya, nanti akan diajak keliling dunia bahkan antar galaksi.

Tiap kali ada setitik sinar yang muncul dilangit, ia anggap itu adalah UFO. Seringkali dia dianggap lelucon oleh teman-temannya. Keteguhan hatinya terhadap mahkluk lain selain dibumi, ia hantarkan pada doanya tiap malam untuk bisa bertemu dengan mereka.

Suatu malam, dia pulang kerja berjalan seorang diri. Saat melewati gang sebelum rumahnya, dia melihat sosok hantu putih berambut panjang. Seketika itu juga dia berpikiran doanya terkabul. "Tunggu...tunggu jangan pergi dulu. Beri aku waktu untuk mengemasi barang," teriak Agi sambil berlari menuju rumah. Hantu itu berpikir berhasil menakuti orang bodoh itu.

Selama menyiapkan tasnya, hantu itu datang lagi. "Aduh...sabar dong. masa sudah datang jauh-jauh sudah mau pulang lagi. Jalan-jalan dulu aja sana," geram Agi. Sang hantu mulai kebingungan dengan tingkah lakunya. Untuk menakutinya lagi, hantu itu terbang di atas kepalanya. "Wah hebat! Aku mau dong digendong. Aku siap diculik nih". Hantu itu kemudian stres dan pergi meninggalkan Agi karena merasa disia-siakan.

Garna Raditja