Beberapa saya temukan sisa-sisa teks kilat, sekitar tahun 2002. Sekadarnya saja maknanya. Silahkan
Nyamuk Berparas Kelinci
Satu menit tertidur
aku dikelilingi nyamuk-nyamuk berparas kelinci
mereka ingin darahku
katanya, darah manusia rasanya manis
untuk dijadikan sarapan untuk pasangannya.
---
Lautan Jeroan
Menyeberang lautan jeroan tanpa sampan
airnya berwarna kuning
banyak lalat dan susah berenang
ku bentangkan kain sutra yang putih
untuk berjalan di atasnya.
---
Muka Aspal
Wajahmu seperti aspal yang mendidih
kian mengeras setelah mengering
kendaraan lalu lalang melintasi rautmu
katakan kalau itu menyakitkan
---
Mandi Ampas Kopi
Aku mandi dengan ampas kopi
nikmat rasanya
diusapkan ke tangan hingga ujung kaki
semakin pekat dan terasa dijilati buah anggur
lalu aku lapar setengah mati.
@GarnaRaditya
Rabu, 22 Oktober 2014
Kamis, 20 Februari 2014
Maling Remote AC
Tiap pagi, warga digegerkan dengan beberapa rumah yang jendelanya rusak tercongkel dengan keadaan terbuka. Banyak yang mengira dimasuki maling, namun dari tempat kejadian tidak ada barang yang hilang.
Kejanggalan itu membuat warga resah meski tidak terjadi pencurian, karena bisa jadi penculikan, perkosaan dan berbagai tindakan kejahatan lainnya. Warga sepakat untuk bergiliran berjaga beberapa hari kedepan agar tidak terjadi apa-apa. Yang ditemui masih jendela rusak tercongkel dan jejak kaki masuk kamar.
Setelah diamati polanya, kejadian itu hanya terjadi di rumah-rumah tertentu yakni rumah yang dipasangi AC. Dari kesaksian warga yang rumahnya disatroni, pada pagi hari AC nya mati dan remotenya hilang.
Tak ada yang tahu motif pelakunya apa, namun penghuni rumah yang pernah dimasuki kini menggunakan AC seperlunya. Tak lagi dinyalakan malam sampai pagi. Sebab, pada tiap kejadian di kamar tersebut selalu ditemukan secarik kertas bertuliskan "Ingatlah pemanasan global".
@GarnaRaditya
Kejanggalan itu membuat warga resah meski tidak terjadi pencurian, karena bisa jadi penculikan, perkosaan dan berbagai tindakan kejahatan lainnya. Warga sepakat untuk bergiliran berjaga beberapa hari kedepan agar tidak terjadi apa-apa. Yang ditemui masih jendela rusak tercongkel dan jejak kaki masuk kamar.
Setelah diamati polanya, kejadian itu hanya terjadi di rumah-rumah tertentu yakni rumah yang dipasangi AC. Dari kesaksian warga yang rumahnya disatroni, pada pagi hari AC nya mati dan remotenya hilang.
Tak ada yang tahu motif pelakunya apa, namun penghuni rumah yang pernah dimasuki kini menggunakan AC seperlunya. Tak lagi dinyalakan malam sampai pagi. Sebab, pada tiap kejadian di kamar tersebut selalu ditemukan secarik kertas bertuliskan "Ingatlah pemanasan global".
@GarnaRaditya
Kamis, 21 November 2013
Suara Pemotong kuku
Pada hari dan jam tertentu, suara itu terdengar dari luar. Berbunyi dengan irama yang tak tentu, seperti pemotong kuku. Tetapi suara itu kian mengusik, berulang-ulang sepertinya kuku yang dipotong begitu panjang, milik siapa itu?
Belakangan, suara sayup-sayup itu berasal dari atap rumah. Memeriksa pun terlampau merepotkan. Tiap malam selalu diliputi rasa penasaran.
Iseng, siang hari menaiki loteng. Ia mendapati potongan kuku, tercecer dimana-mana. Bentuknya berbeda dengan kuku manusia, warnanya buram, bersisik.
Sosok besar, mata merah berbulu hitam dihadapannya. Masih memotong kukunya yang panjangnya sekitar satu meter.
"Hei jelek! Bersihkan engga? Aku potong sekalian lho bulumu."
Seketika, dengan gontai mahkluk itu membersihkan potongan kukunya sambil diawasi. Menunduk dan menghilang, tak berani melihat mata perempuan itu.
@GarnaRaditya
Belakangan, suara sayup-sayup itu berasal dari atap rumah. Memeriksa pun terlampau merepotkan. Tiap malam selalu diliputi rasa penasaran.
Iseng, siang hari menaiki loteng. Ia mendapati potongan kuku, tercecer dimana-mana. Bentuknya berbeda dengan kuku manusia, warnanya buram, bersisik.
Sosok besar, mata merah berbulu hitam dihadapannya. Masih memotong kukunya yang panjangnya sekitar satu meter.
"Hei jelek! Bersihkan engga? Aku potong sekalian lho bulumu."
Seketika, dengan gontai mahkluk itu membersihkan potongan kukunya sambil diawasi. Menunduk dan menghilang, tak berani melihat mata perempuan itu.
Selasa, 17 September 2013
Anak Pohon
Setelah sekian lama, temannya diajak ke apartemen mewah, tempat ia tinggal yang dikelilingi lahan hijau. Sebuah tempat di pinggiran Ibukota yang mulai banyak dibangun gedung-gedung serupa. Bagi dirinya yang tak pernah merasakan serba mewah membuatnya kagum.
"Yuk, renang," kata Alfo mengajak sahabat karibnya, Bian, yang berasal dari keluarga pas-pasan itu menyambut riang. Apalagi dirinya jarang bisa renang.
Dikeriangan saat bermain itu, Bian seperti menyimpan sesuatu yang membuat Alfo bertanya-tanya dengan wajah gusarnya. Ia keluar dari air dengan tergesa-gesa.
"Kamu tahu, dulu dibawah bangunan ini apa?"
"Kuburan? Haha..kamu menakutiku." Jawab Alfo dengan santai.
"Bukan, tetapi keluarga pepohonan."
"Lalu kenapa?"
"Aku anak dari mereka."
@GarnaRaditya
"Yuk, renang," kata Alfo mengajak sahabat karibnya, Bian, yang berasal dari keluarga pas-pasan itu menyambut riang. Apalagi dirinya jarang bisa renang.
Dikeriangan saat bermain itu, Bian seperti menyimpan sesuatu yang membuat Alfo bertanya-tanya dengan wajah gusarnya. Ia keluar dari air dengan tergesa-gesa.
"Kamu tahu, dulu dibawah bangunan ini apa?"
"Kuburan? Haha..kamu menakutiku." Jawab Alfo dengan santai.
"Bukan, tetapi keluarga pepohonan."
"Lalu kenapa?"
"Aku anak dari mereka."
Teman Tidur
Bangun selalu tepat pada terik matahari yang sedang menguning. Badan kepanasan dengan kipas angin yang terus menyala merupakan salah satu alasannya terbangun.
Belum minum air putih sejak haus sepanjang tidur, rokok justru menempel di bibirnya yang menghitam. Wajahnya, pengap, tak ubahnya seperti ruangan kosnya yang hanya cukup dengan lemari dan kasur tanpa ranjang.
"Ah, telat kuliah lagi. Kalau begini terus tak lulus-lulus."
Kebiasaannya saat malam begadang tanpa melakukan apa-apa mengancam siklus hidupnya. Ia lantas berpikir apa yang bisa dilakukan supaya segera mengantuk?
Ia membeli cermin panjang, diletakkan horisontal di dinding sebelah kasur. Sejak saat itu ia sering bangun pagi sambil mengucapkan salam dan tersenyum memandangi sebelahnya. Kini ia memiliki teman tidur yang membangunkan dirinya tiap pagi.
@GarnaRaditya
Belum minum air putih sejak haus sepanjang tidur, rokok justru menempel di bibirnya yang menghitam. Wajahnya, pengap, tak ubahnya seperti ruangan kosnya yang hanya cukup dengan lemari dan kasur tanpa ranjang.
"Ah, telat kuliah lagi. Kalau begini terus tak lulus-lulus."
Kebiasaannya saat malam begadang tanpa melakukan apa-apa mengancam siklus hidupnya. Ia lantas berpikir apa yang bisa dilakukan supaya segera mengantuk?
Ia membeli cermin panjang, diletakkan horisontal di dinding sebelah kasur. Sejak saat itu ia sering bangun pagi sambil mengucapkan salam dan tersenyum memandangi sebelahnya. Kini ia memiliki teman tidur yang membangunkan dirinya tiap pagi.
Kamis, 20 Juni 2013
Salah Kode Morse
Suara pintu berderit berkali-kali. Kamar sebenarnya terang tapi selimut yang telah menutupi seluruh tubuhku ini tetap menahan untuk tidak mengintip.
Apa barangkali adik yang sedang iseng, atau mungkin ada angin kencang. Seluruh pertanyaan bercampur rasa takut menggenapi keinginan untuk kencing yang sudah ditahan bermenit-menit. Padahal ini kamarku sendiri kenapa aku harus takut, lagipula masih ada orang lain di rumah ini.
Tetapi derit itu terus berbunyi, konsisten dengan jeda dan waktu henti secara berkala. Aku tetap tidak berani beranjak. Sementara keringat terus menetes dari keningku menguap, sebab seluruh badan semakin panas. Sedikit udara untuk menghirup.
Sejak kedatangan pesawat misterius itu, aku bersedia menunggu mereka untuk menjemput. Padahal barang bawaanku sudah aku siapkan. Namun keinginanku pergi dari bumi ini telah sirna, aku tidak tahu kalau itu adalah kode morse dari mereka melalui suara derit pintu itu. Aku menyesal, kenapa dulu tidak pernah pergi ekstrakurikuler pramuka.
@GarnaRaditya
Apa barangkali adik yang sedang iseng, atau mungkin ada angin kencang. Seluruh pertanyaan bercampur rasa takut menggenapi keinginan untuk kencing yang sudah ditahan bermenit-menit. Padahal ini kamarku sendiri kenapa aku harus takut, lagipula masih ada orang lain di rumah ini.
Tetapi derit itu terus berbunyi, konsisten dengan jeda dan waktu henti secara berkala. Aku tetap tidak berani beranjak. Sementara keringat terus menetes dari keningku menguap, sebab seluruh badan semakin panas. Sedikit udara untuk menghirup.
Sejak kedatangan pesawat misterius itu, aku bersedia menunggu mereka untuk menjemput. Padahal barang bawaanku sudah aku siapkan. Namun keinginanku pergi dari bumi ini telah sirna, aku tidak tahu kalau itu adalah kode morse dari mereka melalui suara derit pintu itu. Aku menyesal, kenapa dulu tidak pernah pergi ekstrakurikuler pramuka.
@GarnaRaditya
Benci Cerita Cinta
Seakan semua orang kesepian, hanya mengasihani diri. Terutama disaat hujan, meratapi tentang dirinya yang harinya tidak pernah bahagia. Kalau sudah melankolia, cinta dan rindu hanyalah tema yang ada.
Barangkali para penyair itu memang orang kesepian. Menjual tentang cerita cinta yang diulang-ulang, pembacanya tentu saja yang sedang patah hati atau yang sedang sedih dengan sesuatu.
Jolan menggerutu sendiri tiap malam, seperti ada yang mampat dalam angannya.
Suatu ketika, ia merasa sedang diperhatikan. Jolan seolah tidak peduli, bahkan balasan senyuman maupun tatapan mata itu tidak dihiraukan. Ia sengaja, masih muak dengan perasaan emosional yang serupa. Maklum, trauma dengan masa lalunya ditinggal tanpa pesan cukup membuatnya naik berat badannya.
Di tempat yang sama, hingga kali ini sudah belasan kali menjumpainya lagi. Sorotan matanya yang tajam kian membuat terasa seram. Kesal, ia hampiri dengan geram.
"Kamu...hei! Kamu siapa...Jangan membuntuti saya terus ya!"
Pohon didepannya itu tak menjawab apa-apa
@GarnaRaditya
Barangkali para penyair itu memang orang kesepian. Menjual tentang cerita cinta yang diulang-ulang, pembacanya tentu saja yang sedang patah hati atau yang sedang sedih dengan sesuatu.
Jolan menggerutu sendiri tiap malam, seperti ada yang mampat dalam angannya.
Suatu ketika, ia merasa sedang diperhatikan. Jolan seolah tidak peduli, bahkan balasan senyuman maupun tatapan mata itu tidak dihiraukan. Ia sengaja, masih muak dengan perasaan emosional yang serupa. Maklum, trauma dengan masa lalunya ditinggal tanpa pesan cukup membuatnya naik berat badannya.
Di tempat yang sama, hingga kali ini sudah belasan kali menjumpainya lagi. Sorotan matanya yang tajam kian membuat terasa seram. Kesal, ia hampiri dengan geram.
"Kamu...hei! Kamu siapa...Jangan membuntuti saya terus ya!"
Pohon didepannya itu tak menjawab apa-apa
@GarnaRaditya
Langganan:
Postingan (Atom)