Kamis, 23 Desember 2010

Kiriman Dari Ungaran

Setelah semalam Semarang diguyur hujan deras, banjir pun tak terelakkan. Hampir semua pedagang kaki lima di simpang lima minggu pagi kali ini agak kerepotan membersihkan sisa sampah yang mengendap menggunung di sudut-sudut trotoar setelah banjir surut berupa ribuan kaos yang seolah-olah tercabik benda tajam yang ternoda oleh darah dan berbau anyir. Mereka heran darimana sampah-sampah kaos berdarah yang jumlahnya ribuan itu berasal. 

Tiba-tiba salah seorang pedagang berteriak ketakutan setelah membaca sebuah pengumuman di koran. Ternyata sampah kaos berdarah itu berasal dari sisa pembantaian massal semalam yang dilakukan oleh para alien untuk melakukan pemusnahan manusia secara besar-besaran dan Ungaran adalah wilayah pertama yang mereka habisi. 

Kalangan media memberi ultimatum kepada seluruh warga Semarang untuk mencari tempat perlindungan secepat mungkin. Rombongan polisi anti huru hara dan tentara militer terlihat telah bersiap dengan persenjataan mereka karena pesawat alien terlihat telah menggelapkan awan di atas bundaran simpang lima.

Selasa, 21 Desember 2010

Ghost of Galera

I was on my second day out-of-town trip with Karch, her boyfriend Jet and his four other friends in Puerto Galera when I had the creepiest experience of my life.

After a very long island hopping, I went ahead of them to Room 202 at Bangera Inn at the far end of White Beach. I don't want to fall in line for the shower. I need to rinse off the sand because I had to meet two other friends who happened to be on the same island that weekend.

While I was showering, naked and all, something touched my right shoulder. I swear I felt something as rough and yet as gentle as a face towel fell on my shoulder from the ceiling with force enough to make me take a step backwards.

I shrieked because (well, aside from the fact that that's what girls do) I initially thought a big cockroach (the kind of what Paolo used to get me Punk'd earlier) fell on me. When I saw nothing on the bathroom floor, that gave me the effing creeps.

Quite disoriented, I continued bathing when, after 30 seconds or so, a similar but stronger force pushed me again on the same spot I had to curse a crisp (sorry for a very foul language coming up) Putang Ina! out of fear.

It seems very funny now that I instinctively thought of cursing instead of praying when my subconscious fear of ghosts took the better of me. But I remember my uncle telling that ghosts can be intimidated by strong personality. So there. That's what I stupidly did.

After a very very quick rinse, I wore the same bikini and put on a dress because that was the fastest thing for me to do to get out of the room when the Pao, Miko, Bam, and Ivin came knocking at the door.

They were more than welcome to come so that I can tell them what went down. Of course, they thought I was kidding but that is the least thing I should worry about. Okay na yung may kasama ako and I tailed them like a dog sa sobrang takot ko until we reached Manalo's.

After reliving it to Toffee and Tim, I found myself unable to speak. I felt (for the lack of a better term) violated thinking: What did I ever do for that poor spirit to wanna hurt me... physically?

Kaya ngayon, praning na ko with the slightest touch.

Rio Ribaya

Dunia Tanpa Berita

Perusahaan-perusahaan media itu gempar, tak ada sekalipun kejadian dan hal yang diberitakan di seluruh dunia. Para wartawan kebingungan karena tidak ada yang bisa ditulis dan difoto. 7 hari berlalu, masih tak ada kejadian, mereka hanya bisa meliput tentang ketentraman dan keamanan yang terjadi selama itu.

Wartawan itu kemudian mengaku kepada rekan-rekannya saat dirinya berbaring di rumah sakit. "Saya pernah berdoa supaya tuhan menghentikan kejadian apapun, karena saya letih meliput kejadian yang menyedihkan," ujarnya lemas karena tertembak saat meliput.

"Tuhan telah berkonspirasi dengan perusahaan media untuk menghasilkan berita tentang perang, korupsi dan kematian. Apakah sekarang kalian kehilangan pekerjaan?" tuturnya disertai nafas terakhir.

Garna Raditja

Kamis, 04 November 2010

Setan Gundul Pecengis

Dinoboy, bentik, gobak sador siapa yang tak kenal jenis permainan ini di era tahun 80 an. Hampir serbagian besar masyarakat semarang mengena permainan tersebut. Tak ketinggalan di kampung nenek ku kawasan cempedak selatan tepatnya di belakang pasar Mrican. 3 jenis permainan tradisional ini hampir setiap sore dimainkan. Namun ada satu lagi permainan yang menjadi favorit saat itu yaitu MELWO, jenis permainan petak umpet dengan radius tak terbatas.

Permainan melwo inilah yang akhirnya juga membuat resah kampungku saat itu, setelah Sukardi teman sebayaku menjadi penakut selama 7 hari. Tidak itu saja, Bendol sapaan akrab Sukardi kadang berteriak histeris. Usut punya usut setelah Bendol sembuh dari rasa takutnya adalah pengalaman dia bertemu dengan gundul pecengis yang sempat menyanderanya selama 3 jam dibawah pohon randu sekitar sungai. Konon setan gundul pecengis ini marah lantaran bendol menginjaknya saat bersembunyi dari kejaran lawan mainya di M3LWO. "Gundul pecengis itu awalnya berupa anak ayam daam jumlah banyak, namun tiba menyatu membentuk kepala dengan mata melotot dan gigi yang menyerupai taring dan selalu mringis...

Bendol ditemukan warga  dalam keadaan tak sadarkan diri terikat di pohon randu. Sejak peristiwa itu kampung cempedak yang tiap malam ramai, saat itu senyap. Tak jarang penampakan gundul pecengis itu semakin sering mendatangi rumah warga dengan cara memantul seperti bola basket, konon gundul pecengis ini pengen menemani anak kecil dengan berubah seperti bola, apalagi ditambah dengan penampakan peri penunggu sungai Mrican yang ingin mengambil tumbal anak kecil dengan perantara gundul pecengis.......!!!

Imam Rahmayadi

Minggu, 31 Oktober 2010

Album Baru

Musisi itu sudah lama tak tampil. Kelima album telah dirilis menjadi pembicaraan banyak orang dan selalu menduduki posisi pertama dimana-mana. Banyak produser menawari untuk kontrak beberapa album, namun tetap ditolaknya. Pria muda itu berjenggot, memainkan musik balada dengan satu gitar, dengan lirik yang lirih.

Para penggemar bertanya-tanya, kemanakah pria ini? Kesuksesan yang diraih, membuat ia mencari formula musik baru untuk album berikutnya. Ia mengurung diri di sebuah kamar yang gelap. Berkomat-kamit dengan petikan senar. Mencari inspirasi dan merekam musik di studionya sendiri.

Beberapa tahun kemudian, ia muncul dengan album baru. Tanpa ada promosi, tiba-tiba albumnya sudah ada di toko. Penggemarnya berebutan membeli, namun semua terkejut. Tak ada musik di rilisannya itu!

"Album baru ini bukan untuk manusia," jawab pria itu dalam wawancara di televisi.

Pada konser peluncuran albumnya, tak ada satupun orang yang menonton. Pria itu berdiri menunduk tak bergerak hanya berpegang gitar. Tak bersuara, namun ribuan lelembut itu sedang menikmati musik yang dilantunkan pria itu.

Garna Raditja

Dunia Paralel

Gia hidup sebagai perempuan yang penuh kebahagiaan. Lahir dari keluarga berada, cantik, pintar dan akan segera menikah dengan seorang pemuda kaya. Namun dimensi lain ia menjadi orang  hilang ingatan yang hidup di pinggir jalan.

Suatu hari, ia bersiap untuk hari bahagianya. Seluruh keluarga yang berdarah biru itu adakan pesta pernikahan secara besar-besaran. Sedangkan Gia yang dipinggir jalan mengatakan hal yang sama seperti Gia yang disana. Namun karena berbeda dunia, Gia seperti halnya orang hilang ingatan yang berbicara sendiri, dianggap gila banyak orang.

Gia menyusuri trotoar karena kelaparan. Ia melihat sebuah apel yang jatuh di tengah jalan dan mengambil pada lalu lalang kendaraan. Truk oleng, panik melihat gadis compang-camping itu di tengah jalan.

Sementara itu, Gia yang menuju pelaminan akan berucap janji kepada sang pria di depan pendeta. "Saya akan menemani dalam suka dan...". Tiba-tiba Gia dengan gaun panjang itu tergeletak tanpa sadar. Para tamu panik, dan calon suaminya mencoba membangunkan namun tak ada nafas yang terhembus.

Keduanya di masing-masing dimensi meninggal secara bersamaan. Supir truk melarikan diri, sang calon suami hilang ingatan akibat depresi.

Garna Raditja

Jumat, 29 Oktober 2010

Kendet Nglewer

Sebuah mitos di salah satu perkampungan kota Semarang, kendet atau orang Jawa bilang stagen menjadi salah satu momok kampung Karanganyar, karena benda ini bisa terbang dan melilit seperti ular kepada para korbannya. Konon stagen ini milik Nyi Minah, seorang dukun bayi yang tewas lantaran gantung diri karena gagal menolong persalinan pasienya.

Imam Rahmayadi