Karina tinggal di rumah yang sangat sejuk bersama ayah ibu. Namun belakangan ini, rumahnya terasa aneh. Sering ia mendengar suara riuh ketika terlelap dalam pelukan ibunya.
“Suara apa itu, Bu?” tanya Karina kecil.
“Kita harus waspada sayang, ada pendatang baru dan mereka mulai menghantui,” kata ibunya seraya berbisik. Karina kecil meringkuk ketakutan. Ia kini menyadari kenapa boneka ranting kesayangannya sering berpindah dengan sendirinya. Mereka, makluk asing itu yang memindahkan.
“Jangan takut, ayah dan ibu akan selalu bersamamu, sayang.”
Gadis manis yang gemar bergaun putih itu merengek hari berikutnya.
“Kenapa, sayang?” Tanya Ibu. “Ibu, rumah kita panas sekali.” Ayah dan Ibu kini mulai geram. Mereka memutuskan untuk berpindah rumah, Karina tidak bisa dibiarkan kepanasan sepanjang hari.
Pagi itu, penghuni rumah di sebelah rumah Karina mengepak semua barang, meskipun ini baru minggu pertama tinggal disana.
Mereka ketakutan setengah mati. Penghuni pohon depan rumah semalam menghantui karena pohon mereka tebang tanpa satu daunpun tersisa. Saat mereka menjejakkan kaki keluar dari pintu rumah, Karina kecil dengan gaun putihnya melambaikan tangan kemudian ia bersiap untuk tidur karena matahari diluar mulai terik.
Devi Hermasari
Kamis, 24 Januari 2013
Senin, 07 Januari 2013
Sendiri di Bumi
Untuk mengawali cerita perdana di tahun 2013 ini, saya akan sematkan satu judul dalam format cerpen. Sebagai penghela nafas untuk mereguk suasana baru. Anggap saja sebagai bonus. Cerbung horor ini akan tetap bergulir ditengah fiksi kilat yang akan terus berjalan. Selamat menikmati!
***
Dia sendirian di belantara hijau. Udara yang terhirup masih sejuk, belum ada polusi yang menyengat hidungnya saat bangun pagi.
Kadang Sunaf di ujung jurang, tiba-tiba sudah berenang di lautan sambil menyapa karang. Cari makan sekalian. Hidupnya terpenuhi dari kebebasan yang ia miliki.
Sunaf tidak pernah merasa sendiri, karena angin adalah teman akrabnya, bicara dari desiran. Apalagi hujan, serasa mendengarkan orkestra ketika butuh ketenangan.
Tak jauh dari pohon yang ia rebahi, pasangan yang konon disebut Adam dan Hawa itu hidup di sebuah taman yang disebut Eden. Mereka tidak terpisahkan, serasa dunia milik berdua.
Yang tiap kali Sunaf membuat menelan ludah, mereka berdua telanjang. Apalagi saat hawa sedang tiduran di bawah pohon, dia amati lekuk tubuhnya yang sintal. Amboi, Sunaf pikirannya memang nakal.
Sementara disaat Adam tengah sibuk berburu buah, dia berusaha mendekat pada Hawa beberapa jengkal berselimut belukar, memastikan bisa memandang keelokan matanya yang tertutup.
Bisa sampai berjam-jam. Kadang birahinya muncul, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti gunung yang mau meletus, instingnya hanya seperti kepulan asap tebal ala bulu domba yang kusam. Tak kunjung meletup.
Hawa rambutnya panjang, sampai menutup pantatnya yang hampir kemerah-merahan. "Duh seperti apel, rasanya ingin aku gigit lemas, separuh saja boleh lah."
Hingga atap perutnya yang seperti gelembung air, ingin ia renangi sampai pada pulau yang tertuju. Begitu liar Sunaf membayangkan keelokan Hawa.
"Ah, apa-apaan aku ini."
Masih saja dia bingung sampai hanya melamun habiskan harinya. Tubuh dimatanya, bak embun yang hanya ia jumpai di daun. Menetes ke tanah, menyegarkan tanaman. Siap untuk berbuah. Tapi apa daya, keresahannya itu kian menyiksa. Tiap harinya hanya mengintip, duduk terlentang tanpa melakukan apa-apa.
Batu yang biasa dipakai untuk mengkuliti makanannya, diasah hingga tajam. Bahkan debu yang hinggap, terbelah sampai tak terlihat. Seraya berkomat-kamit untuk batu, dia merencanakan sesuatu.
Di semak kembali merumput menjadi bagian tubuhnya hijau, liar, otot tangannya tampak seperti ranting. Binatang, akan terkelabuhi penyamarannya. Dia ahli dalam hal ini, terutama saat memenuhi makan daging.
Dari depan matanya, Sunaf yang terlentang seperti bangkai pohon dibelakangi Adam yang sedang memetik buah-buahan. Tentu, bukan apel terlarang itu. Kadang sempat jengkel untuk mengingatkan berkali-kali kepada Hawa untuk tidak menyentuhnya. Ular yang kerap mengajak pasangannya bercengkrama membuatnya cemburu. Tapi Adam yang seorang pemalu, hanya bisa mengusir ular, tak berani membunuh. Siapa yang berani dengan iblis? Mungkin, takut racun bisa-nya.
"Ah, pas sekali. Mungkin Hawa butuh seorang yang baru. Lagipula, mereka tidak banyak bicara. Ah, mungkin aku bisa membahagiakannnya. Mereka datar sekali hidupnya. Semua serba ada. Sesekali perlulah ada air mata."
"Jreb.." Darah mengucur dari punggung adam. Belum cukup, sunaf menarik sebelum melepas batu tajam itu hingga mengoyak tulang. "Krak..."
Adam gontai, sampai jatuh tak sadarkan diri. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. "Ah, aku makan saja daripada mubazir. Sepertinya dagingnya enak. Lumayan untuk buruan hari ini. Makan malam besar."
Bulan benderang, burung kian memeluk sarang sambil melindungi anak-anaknya yang baru saja menetas. Sementara auman raja hutan meninggalkan kekuasaannya sampai pagi menjelang, mendekap goa singgasananya yang tak ada yang berani memasuki. Sunaf sekalipun, putera hutan yang seorang diri.
Hanya hawa yang masih gelisah, malamnya tak disambut mimpi, lantaran sibuk mencari Adam yang hilang sejak siang tadi. Sejak saat itu, awan punya teman. Air mata Hawa menetes ke tanah, berbaur dengan ranjang jerami di kediamannya yang tak lagi hangat. Dingin, sendiri.
(Bersambung)
***
Dia sendirian di belantara hijau. Udara yang terhirup masih sejuk, belum ada polusi yang menyengat hidungnya saat bangun pagi.
Kadang Sunaf di ujung jurang, tiba-tiba sudah berenang di lautan sambil menyapa karang. Cari makan sekalian. Hidupnya terpenuhi dari kebebasan yang ia miliki.
Sunaf tidak pernah merasa sendiri, karena angin adalah teman akrabnya, bicara dari desiran. Apalagi hujan, serasa mendengarkan orkestra ketika butuh ketenangan.
Tak jauh dari pohon yang ia rebahi, pasangan yang konon disebut Adam dan Hawa itu hidup di sebuah taman yang disebut Eden. Mereka tidak terpisahkan, serasa dunia milik berdua.
Yang tiap kali Sunaf membuat menelan ludah, mereka berdua telanjang. Apalagi saat hawa sedang tiduran di bawah pohon, dia amati lekuk tubuhnya yang sintal. Amboi, Sunaf pikirannya memang nakal.
Sementara disaat Adam tengah sibuk berburu buah, dia berusaha mendekat pada Hawa beberapa jengkal berselimut belukar, memastikan bisa memandang keelokan matanya yang tertutup.
Bisa sampai berjam-jam. Kadang birahinya muncul, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti gunung yang mau meletus, instingnya hanya seperti kepulan asap tebal ala bulu domba yang kusam. Tak kunjung meletup.
Hawa rambutnya panjang, sampai menutup pantatnya yang hampir kemerah-merahan. "Duh seperti apel, rasanya ingin aku gigit lemas, separuh saja boleh lah."
Hingga atap perutnya yang seperti gelembung air, ingin ia renangi sampai pada pulau yang tertuju. Begitu liar Sunaf membayangkan keelokan Hawa.
"Ah, apa-apaan aku ini."
Masih saja dia bingung sampai hanya melamun habiskan harinya. Tubuh dimatanya, bak embun yang hanya ia jumpai di daun. Menetes ke tanah, menyegarkan tanaman. Siap untuk berbuah. Tapi apa daya, keresahannya itu kian menyiksa. Tiap harinya hanya mengintip, duduk terlentang tanpa melakukan apa-apa.
Batu yang biasa dipakai untuk mengkuliti makanannya, diasah hingga tajam. Bahkan debu yang hinggap, terbelah sampai tak terlihat. Seraya berkomat-kamit untuk batu, dia merencanakan sesuatu.
Di semak kembali merumput menjadi bagian tubuhnya hijau, liar, otot tangannya tampak seperti ranting. Binatang, akan terkelabuhi penyamarannya. Dia ahli dalam hal ini, terutama saat memenuhi makan daging.
Dari depan matanya, Sunaf yang terlentang seperti bangkai pohon dibelakangi Adam yang sedang memetik buah-buahan. Tentu, bukan apel terlarang itu. Kadang sempat jengkel untuk mengingatkan berkali-kali kepada Hawa untuk tidak menyentuhnya. Ular yang kerap mengajak pasangannya bercengkrama membuatnya cemburu. Tapi Adam yang seorang pemalu, hanya bisa mengusir ular, tak berani membunuh. Siapa yang berani dengan iblis? Mungkin, takut racun bisa-nya.
"Ah, pas sekali. Mungkin Hawa butuh seorang yang baru. Lagipula, mereka tidak banyak bicara. Ah, mungkin aku bisa membahagiakannnya. Mereka datar sekali hidupnya. Semua serba ada. Sesekali perlulah ada air mata."
"Jreb.." Darah mengucur dari punggung adam. Belum cukup, sunaf menarik sebelum melepas batu tajam itu hingga mengoyak tulang. "Krak..."
Adam gontai, sampai jatuh tak sadarkan diri. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. "Ah, aku makan saja daripada mubazir. Sepertinya dagingnya enak. Lumayan untuk buruan hari ini. Makan malam besar."
Bulan benderang, burung kian memeluk sarang sambil melindungi anak-anaknya yang baru saja menetas. Sementara auman raja hutan meninggalkan kekuasaannya sampai pagi menjelang, mendekap goa singgasananya yang tak ada yang berani memasuki. Sunaf sekalipun, putera hutan yang seorang diri.
Hanya hawa yang masih gelisah, malamnya tak disambut mimpi, lantaran sibuk mencari Adam yang hilang sejak siang tadi. Sejak saat itu, awan punya teman. Air mata Hawa menetes ke tanah, berbaur dengan ranjang jerami di kediamannya yang tak lagi hangat. Dingin, sendiri.
(Bersambung)
Kamis, 29 November 2012
Berkencan Makhluk Asing
Perempuan itu sodorkan gelas kepadaku. Di sebuah pesta malam, kami tidak sengaja berhimpitan di kerumunan para pesolek dan bergincu. Sementara kami milih mendekati kolam renang.
Drum n' bass berdegub kencang mulai sayup-sayup lantaran kami menjauh dan terlibat percakapan yang menyenangkan.
"Aku tidak suka keramaian, hanya memenuhi undangan teman saja. Kamu bersama?" Tanyaku dijawab topik lain, tetapi tetap bergulir. Pesta ini membiarkan orang asing saling kenal. Tapi, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun. Dini hari, tepat gerhana bulan berakhir berotasi tampaknya ia bergelagat ingin pergi. Aku berusaha mempertahankan percakapan ini.
"Ada yang menunggu?"
"Iya, mungkin aku sekarang telat. Apa boleh buat?"
Ah, mungkin memang dia sudah berkeluarga. Atau bersama pasangannya di sudut rumah minimalis ini. Tampaknya ia tidak semuda itu. Aku mulai disergap beribu pertanyaan.
"Mungkin, tinggalkan nomor telponmu, semoga kita bisa bertemu atau email atau bisa tahu nama lengkapmu?" Harapku kian cemas. Tak kunjung dibalas jawaban.
Blazer hitam yang dipakainya kian tak terlihat, ia mundur pelan mengaba cium jauh dari tangan dan menghilang memasuki pintu. Sebuah cahaya kedap kedip dari kejauhan. Dia menaiki pesawat yang tertutup dedaunan. Itu terakhir aku melihatnya. Sepertinya dia memang makhluk asing.
@GarnaRaditya
Drum n' bass berdegub kencang mulai sayup-sayup lantaran kami menjauh dan terlibat percakapan yang menyenangkan.
"Aku tidak suka keramaian, hanya memenuhi undangan teman saja. Kamu bersama?" Tanyaku dijawab topik lain, tetapi tetap bergulir. Pesta ini membiarkan orang asing saling kenal. Tapi, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun. Dini hari, tepat gerhana bulan berakhir berotasi tampaknya ia bergelagat ingin pergi. Aku berusaha mempertahankan percakapan ini.
"Ada yang menunggu?"
"Iya, mungkin aku sekarang telat. Apa boleh buat?"
Ah, mungkin memang dia sudah berkeluarga. Atau bersama pasangannya di sudut rumah minimalis ini. Tampaknya ia tidak semuda itu. Aku mulai disergap beribu pertanyaan.
"Mungkin, tinggalkan nomor telponmu, semoga kita bisa bertemu atau email atau bisa tahu nama lengkapmu?" Harapku kian cemas. Tak kunjung dibalas jawaban.
Blazer hitam yang dipakainya kian tak terlihat, ia mundur pelan mengaba cium jauh dari tangan dan menghilang memasuki pintu. Sebuah cahaya kedap kedip dari kejauhan. Dia menaiki pesawat yang tertutup dedaunan. Itu terakhir aku melihatnya. Sepertinya dia memang makhluk asing.
Selasa, 20 November 2012
Gagal ke Luar Angkasa
Saat bangun aku teringat semalam ada yang menyusup ke kamarku. Tidak begitu jelas, dengan setengah sadar ada yang memandangku. Tapi tiba-tiba sosok itu hilang seketika.
Aku mengira itu mungkin hanya sisa mimpi yang sedang terjadi atau pencuri masuk. Tetapi, tidak ada barangku yang hilang. Tapi ah, rumahku terbilang aman untuk dimasuki penyusup. Lagipula aku masih belum sadar betul.
Aku tahu sedang sendirian saat itu. Seluruh keluargaku pergi liburan. Pikiranku kemana-mana, jangan-jangan hantu?
***
Pukul 02.35, sinar berkelebat diluar. Suara pesawat mendengung terdengar samar-samar, mahkluk itu masuk kamar. Gara-gara kejatuhan cicak, kaget lantas pergi mengurungkan niatnya, untuk menculik remaja yang sedang sendirian itu.
@GarnaRaditya
Aku mengira itu mungkin hanya sisa mimpi yang sedang terjadi atau pencuri masuk. Tetapi, tidak ada barangku yang hilang. Tapi ah, rumahku terbilang aman untuk dimasuki penyusup. Lagipula aku masih belum sadar betul.
Aku tahu sedang sendirian saat itu. Seluruh keluargaku pergi liburan. Pikiranku kemana-mana, jangan-jangan hantu?
***
Pukul 02.35, sinar berkelebat diluar. Suara pesawat mendengung terdengar samar-samar, mahkluk itu masuk kamar. Gara-gara kejatuhan cicak, kaget lantas pergi mengurungkan niatnya, untuk menculik remaja yang sedang sendirian itu.
Sabtu, 03 November 2012
Menyuapi Kembang
Untuk makan malam dengannya, terkadang merepotkan. Tapi momentum bertemu merupakan kesempatan berharga, tidak sembarang waktu.
Aku harus mencari bahan makanan sesuai yang ia pinta. Maklum, dulu aku yang sering minta dimasakin. Masakannya selalu lezat. Kalau sudah begini, jadi terkenang saat dulu kencan terbatas karena jam malam, tapi kini bisa sampai larut.
Sepi dan gelap. Itu yang harus aku biasakan untuk saat ini. Hampir sama seperti dulu kalau kita tidak menyukai keramaian, lebih suka yang tempatnya tenang. Kali ini memang benar-benar sunyi senyap.
Sudah aku jalani ini sejak 2 tahun lalu. Aku menyuapinya kembang tujuh rupa dan membersihkan nisannya dengan air beras. Kadang, aku merasa...ahh...hanya kedinginan saja. Selebihnya, hanya ingin segera pulang setelah selesai semua.
@GarnaRaditya
Aku harus mencari bahan makanan sesuai yang ia pinta. Maklum, dulu aku yang sering minta dimasakin. Masakannya selalu lezat. Kalau sudah begini, jadi terkenang saat dulu kencan terbatas karena jam malam, tapi kini bisa sampai larut.
Sepi dan gelap. Itu yang harus aku biasakan untuk saat ini. Hampir sama seperti dulu kalau kita tidak menyukai keramaian, lebih suka yang tempatnya tenang. Kali ini memang benar-benar sunyi senyap.
Sudah aku jalani ini sejak 2 tahun lalu. Aku menyuapinya kembang tujuh rupa dan membersihkan nisannya dengan air beras. Kadang, aku merasa...ahh...hanya kedinginan saja. Selebihnya, hanya ingin segera pulang setelah selesai semua.
Jumat, 26 Oktober 2012
Menikahi Cermin
Sebuah cermin yang cukup tua usianya tergantung di dinding rumah. Penghuni baru merasa beruntung dengan keberadaan benda berbentuk bulat itu. Antik, jarang ia temui sejauh melihat cermin yang ada.
Tidak ada bingkai atau ukiran, sebuah cermin lonjong sepanjang 1 meter. Setelah dibersihkan dari debu, wujudnya seperti baru. Ia pindahkan posisi di ruang tamu. Hanya itu yang tersisa di rumah yang telah lama tidak ditinggali. Untuk sebuah tempat tinggal, terlampau bersih yang membuatnya memilih rumah yang dekat dengan jalan raya, dikelilingi gedung perkantoran.
Suatu ketika ia memandang cermin. Melihat dirinya ia sesekali merasa dirinya yang tampan, memiliki jabatan karier yang tinggi dan keberuntungan lainnya. Ia merasa tenang saat melihat dirinya di cermin.
Undangan ia sebarkan. Pernikahannya yang sederhana itu menggembirakan kerabat dan keluarganya meski tidak tahu persis siapa pasangannya. Hanya sebuah nama tertera di undangan. Para tamu datang dengan penuh tanda tanya. Seperti sebuah helatan makan malam, pikir mereka. Ia muncul ditengah meja panjang sambil tersenyum mendekap cermin.
"Perkenalkan, ini istri saya".
Ia pandang cermin itu sambil tersenyum, melihat dirinya yang tampan itu sebagai mempelai.
@GarnaRaditya
Tidak ada bingkai atau ukiran, sebuah cermin lonjong sepanjang 1 meter. Setelah dibersihkan dari debu, wujudnya seperti baru. Ia pindahkan posisi di ruang tamu. Hanya itu yang tersisa di rumah yang telah lama tidak ditinggali. Untuk sebuah tempat tinggal, terlampau bersih yang membuatnya memilih rumah yang dekat dengan jalan raya, dikelilingi gedung perkantoran.
Suatu ketika ia memandang cermin. Melihat dirinya ia sesekali merasa dirinya yang tampan, memiliki jabatan karier yang tinggi dan keberuntungan lainnya. Ia merasa tenang saat melihat dirinya di cermin.
Undangan ia sebarkan. Pernikahannya yang sederhana itu menggembirakan kerabat dan keluarganya meski tidak tahu persis siapa pasangannya. Hanya sebuah nama tertera di undangan. Para tamu datang dengan penuh tanda tanya. Seperti sebuah helatan makan malam, pikir mereka. Ia muncul ditengah meja panjang sambil tersenyum mendekap cermin.
"Perkenalkan, ini istri saya".
Ia pandang cermin itu sambil tersenyum, melihat dirinya yang tampan itu sebagai mempelai.
Terpasung Mimpi
Ada suara berderik, tiap jendela di kamar terkena angin. Biasanya memang aku buka untuk sirkulasi udara. Kalau sudah terdengar terus-terusan, serasa ada yang mengajak bicara. Aku ucapkan selamat pagi kepada suara itu.
Sudah sore, tidak ada angin tidak ada suara jendela. Gerimis yang membasahi tanaman diluar, menandakan aku harus menutup jendela supaya air tidak memasuki ruang. Listrik mati, aku hanya rebahan di tanah lembab sambil memandangi tetesan yang bergulir di kaca jendela. Aku tertidur lagi.
Gelap, listrik untuk satu bohlam didalam tak kunjung menyala. Hanya hawa sejuk pascahujan menyelimuti. Suara derik jendela itu terdengar, sekali dua kali, dan seterusnya. Itu suara merdu bagiku.
Melihat ke atap, kadang aku melihat bintang dan bulan. Cerah sekali. Seperti aku berada rimbunan pohon, tapi nyatanya aku diatas pasir pantai, dengan terdengar ombak yang menggulung. Aku tertidur lagi, bangun dipuncak atap gedung, dan tidur lagi berharap kerangkeng di kakiku mengarat dan melepaskan aku.
Langganan:
Postingan (Atom)