Senin, 03 Januari 2011

Demi Nyai

Penulis itu sudah berhari-hari resah. Mondar-mandir, menenggak alkohol dan kopi, tetap tak mengasilkan ide. Ia ingin membuat karya  yang terbaik sejak 20 tahun menekuni dunia sastra. Buku yang telah dia hasilkan fiksi tentang cinta dan cinta. Demi pasar, katanya.

Ia ingin sesuatu yang berbeda untuk buku berikutnya. Ia ingin mengalami sendiri, karena sebelumnya mengadaptasi dari cerita orang lain atau kisah teman. Memang, beberapa waktu lalu dia baru saja patah hati ditinggal kekasih. Hanya masalah sepele, dia menolak permintaan pacarnya untuk dibelikan hp blackberry.

Pisau dapur itu telah digenggam. Sementara tangan kanannya bersiap untuk mengetik. Ia torehkan pisau berkarat itu di kakinya. Sedikit demi sedikit darahnya mengucur, sementara itu ia tuliskan rasa sakitnya. Paragraf berikutnya selesai. Lantas ia potong kedua kaki. Saat darahnya muncrat tak terkendali, ia terus mengetik.

Mengerang kesakitan seraya menyayat tangan kanan dan menghunuskan ke ulu hati. Sebelum kehabisan darah, ia harus memutuskan kata terakhir. Sayang, ia tergeletak tak sadarkan diri dengan mata terbelalak. Puisi yang terakhir kali itu tak terselesaikan, yang berjudul "Demi Nyai, ku Rela Mati".

Garna Raditja

Sabtu, 01 Januari 2011

Kembang Api

Malam sebelum tahun baru. Rerintik hujan membasahi jalanan. Muda-mudi bersiap pergi tanpa rencana, yang penting bisa ketawa-ketiwi serasa esok tak pernah ada. Pekerja merapikan kembang api yang akan meletus di tengah malam. Dengan penuh harap, air hujan tak membasahi sumbu supaya warga senang dengan percikan api di bawah awan meski hanya akan habis pada belasan menit.

5,4,3,2,1...terompet pun berbunyi. Semua histeris menyambut tahun 2011. Para pemantik api berdoa, api yang berpijar memancarkan ceria dari para warga yang menyaksikan letusan penuh harapan.

Belasan menit berlalu. Semua terperangah dengan liuk api yang menari dan warna-warni. Terus meletus dan tak berhenti. Warga keheranan, kembang api tak mati-mati. Dua jam terlewati, tetap saja api mewarnai langit. Mereka ketakutan dan ingin segera pulang setelah menyaksikan keanehan.

Seluruh langit di muka bumi penuh asap. Kembang api terus berpijar dengan bunyi letusan yang menggelegar. Hingga tahun berganti sejak tahun ini, kembang api itu menyala tak berhenti.

Garna Raditja

Pria Kesepian

Sepulang kerja lembur, Rod bersiap untuk malam yang dinanti. Dia berencana untuk menghabiskan malam tahun baru sendiri di Simpang Lima. Pakaian perlente dan wangi, berharap dapat kenalan baru, pikirnya.

Seraya memakai sepatu Dr Martin, ia membayangkan penuh kembang api dan terumpet yang membahana dimana-mana. Pukul 23.00 ia sengaja berjalan untuk menuju keramaian yang tak jauh dari rumahnya.

Menyusuri gang dengan rintik hujan, kepalanya berteduh di topi pancing yang dikenakan. Tak ada orang di jalanan, sepi. Ia melanjutkan jalan kakinya hingga simpang lima. Senyap dan pikirannya semakin tak karuan.

Tepat pukul 00.00, suara kembang api memecah kesunyian. Terumpet memekakkan telinganya, namun dia semakin bingung karena tak ada siapapun di tengah kota itu. Sambil berlari ketakutan, ia terpeleset jatuh tak sadarkan diri.

Saat siuman di pagi hari, ia berada di tengah Simpang Lima. Melihat sampah-sampah bertebaran tetapi tetap tak terlihat satu orang sekalipun.


Garna Raditja

Kamis, 23 Desember 2010

Kiriman Dari Ungaran

Setelah semalam Semarang diguyur hujan deras, banjir pun tak terelakkan. Hampir semua pedagang kaki lima di simpang lima minggu pagi kali ini agak kerepotan membersihkan sisa sampah yang mengendap menggunung di sudut-sudut trotoar setelah banjir surut berupa ribuan kaos yang seolah-olah tercabik benda tajam yang ternoda oleh darah dan berbau anyir. Mereka heran darimana sampah-sampah kaos berdarah yang jumlahnya ribuan itu berasal. 

Tiba-tiba salah seorang pedagang berteriak ketakutan setelah membaca sebuah pengumuman di koran. Ternyata sampah kaos berdarah itu berasal dari sisa pembantaian massal semalam yang dilakukan oleh para alien untuk melakukan pemusnahan manusia secara besar-besaran dan Ungaran adalah wilayah pertama yang mereka habisi. 

Kalangan media memberi ultimatum kepada seluruh warga Semarang untuk mencari tempat perlindungan secepat mungkin. Rombongan polisi anti huru hara dan tentara militer terlihat telah bersiap dengan persenjataan mereka karena pesawat alien terlihat telah menggelapkan awan di atas bundaran simpang lima.

Selasa, 21 Desember 2010

Ghost of Galera

I was on my second day out-of-town trip with Karch, her boyfriend Jet and his four other friends in Puerto Galera when I had the creepiest experience of my life.

After a very long island hopping, I went ahead of them to Room 202 at Bangera Inn at the far end of White Beach. I don't want to fall in line for the shower. I need to rinse off the sand because I had to meet two other friends who happened to be on the same island that weekend.

While I was showering, naked and all, something touched my right shoulder. I swear I felt something as rough and yet as gentle as a face towel fell on my shoulder from the ceiling with force enough to make me take a step backwards.

I shrieked because (well, aside from the fact that that's what girls do) I initially thought a big cockroach (the kind of what Paolo used to get me Punk'd earlier) fell on me. When I saw nothing on the bathroom floor, that gave me the effing creeps.

Quite disoriented, I continued bathing when, after 30 seconds or so, a similar but stronger force pushed me again on the same spot I had to curse a crisp (sorry for a very foul language coming up) Putang Ina! out of fear.

It seems very funny now that I instinctively thought of cursing instead of praying when my subconscious fear of ghosts took the better of me. But I remember my uncle telling that ghosts can be intimidated by strong personality. So there. That's what I stupidly did.

After a very very quick rinse, I wore the same bikini and put on a dress because that was the fastest thing for me to do to get out of the room when the Pao, Miko, Bam, and Ivin came knocking at the door.

They were more than welcome to come so that I can tell them what went down. Of course, they thought I was kidding but that is the least thing I should worry about. Okay na yung may kasama ako and I tailed them like a dog sa sobrang takot ko until we reached Manalo's.

After reliving it to Toffee and Tim, I found myself unable to speak. I felt (for the lack of a better term) violated thinking: What did I ever do for that poor spirit to wanna hurt me... physically?

Kaya ngayon, praning na ko with the slightest touch.

Rio Ribaya

Dunia Tanpa Berita

Perusahaan-perusahaan media itu gempar, tak ada sekalipun kejadian dan hal yang diberitakan di seluruh dunia. Para wartawan kebingungan karena tidak ada yang bisa ditulis dan difoto. 7 hari berlalu, masih tak ada kejadian, mereka hanya bisa meliput tentang ketentraman dan keamanan yang terjadi selama itu.

Wartawan itu kemudian mengaku kepada rekan-rekannya saat dirinya berbaring di rumah sakit. "Saya pernah berdoa supaya tuhan menghentikan kejadian apapun, karena saya letih meliput kejadian yang menyedihkan," ujarnya lemas karena tertembak saat meliput.

"Tuhan telah berkonspirasi dengan perusahaan media untuk menghasilkan berita tentang perang, korupsi dan kematian. Apakah sekarang kalian kehilangan pekerjaan?" tuturnya disertai nafas terakhir.

Garna Raditja

Kamis, 04 November 2010

Setan Gundul Pecengis

Dinoboy, bentik, gobak sador siapa yang tak kenal jenis permainan ini di era tahun 80 an. Hampir serbagian besar masyarakat semarang mengena permainan tersebut. Tak ketinggalan di kampung nenek ku kawasan cempedak selatan tepatnya di belakang pasar Mrican. 3 jenis permainan tradisional ini hampir setiap sore dimainkan. Namun ada satu lagi permainan yang menjadi favorit saat itu yaitu MELWO, jenis permainan petak umpet dengan radius tak terbatas.

Permainan melwo inilah yang akhirnya juga membuat resah kampungku saat itu, setelah Sukardi teman sebayaku menjadi penakut selama 7 hari. Tidak itu saja, Bendol sapaan akrab Sukardi kadang berteriak histeris. Usut punya usut setelah Bendol sembuh dari rasa takutnya adalah pengalaman dia bertemu dengan gundul pecengis yang sempat menyanderanya selama 3 jam dibawah pohon randu sekitar sungai. Konon setan gundul pecengis ini marah lantaran bendol menginjaknya saat bersembunyi dari kejaran lawan mainya di M3LWO. "Gundul pecengis itu awalnya berupa anak ayam daam jumlah banyak, namun tiba menyatu membentuk kepala dengan mata melotot dan gigi yang menyerupai taring dan selalu mringis...

Bendol ditemukan warga  dalam keadaan tak sadarkan diri terikat di pohon randu. Sejak peristiwa itu kampung cempedak yang tiap malam ramai, saat itu senyap. Tak jarang penampakan gundul pecengis itu semakin sering mendatangi rumah warga dengan cara memantul seperti bola basket, konon gundul pecengis ini pengen menemani anak kecil dengan berubah seperti bola, apalagi ditambah dengan penampakan peri penunggu sungai Mrican yang ingin mengambil tumbal anak kecil dengan perantara gundul pecengis.......!!!

Imam Rahmayadi