Sabtu, 10 September 2011

Makhluk yang Kesepian

Sudah beberapa minggu ini, Tarja berdiam diri di kamarnya. Lantaran mengalami patah hati yang membuat dirinya tidak produktif dalam sehari-harinya dan berpikir untuk mengakhiri hidup.

Malam itu ia masih di kamarnya. Menengok jendela, menarik dirinya ke balkon sambil melihat langit. Ia berandai-andai jika bisa pergi sejauh mungkin untuk melupakan masa lalunya.

Sebuah suara mendengung, makhluk itu mengetuk jendela kamarnya. Sontak, membuat ia kaget dan ketakutan seraya teriak bertanya kepada sosok itu.

"Tenang, aku tidak menyakitimu. Maaf jika membuatmu takut. Aku hanya ingin mengobrol saja," ujar makhluk tinggi kurus itu. Tarja sendiri sedari tadi juga membutuhkan teman untuk berkeluh kesah, tapi ia semakin bingung.

Melalui pintu kamar dari balkon, makhluk itu mendekatinya. Sedangkan Tarja masih ketakutan, sambil pelan-pelan berusaha untuk menerima kedatangan makhluk itu. "Aku masih belum mengerti kenapa aku ditinggal tanpa pesan olehnya. Aku bingung entah kemana untuk melupakan perasaan ini. Aku sendiri tidak tahu aku ini dimana," keluh mahkluk itu.

Tarja mulanya kebingungan, ia pikir, makhluk ini tersesat dan mengalami hal yang sama. Beberapa menit kemudian, mereka saling bercerita mencurahkan hatinya masing-masing hingga berjam-jam hingga obrolan mereka semakin larut dari hati ke hati.

"Boleh aku ikut kamu?"

"Ya, mari kita pergi dan menyesatkan diri"

Piring terbang itu melaju kencang, meninggalkan bumi. Keinginan Tarja terpenuhi.

Garna Raditja

Kamis, 18 Agustus 2011

Mesin Waktu


Mesin waktu yang dirancang berpuluh-puluh tahun itu sudah mendekati sempurna. Dengan menggunakan teknologi ilmiah yang hampir tak dipahami semua orang, di tahun 2011 ini, Ia ingin melihat keadaan bumi 200 tahun mendatang.

Ruang berbentuk tabung 2 meter itu siap untuk dicoba. Hanya dia sendiri yang harus melakukan percobaan, ia pun mempersiapkan segala sesuatunya. Dan yang terpenting ialah dokumentasi untuk mengabadikan keadaan dimasa depan.

Mesin dinyalakan, tak selancar yang dikira. Mesin penghubung tabung itu bergetar. Terjadi goncangan, hingga membuat ia kehilangan kendali dan pingsan. Terjadi begitu cepat. Saat siuman, ia melepaskan alat-alat yang menempel ditubuhnya. Saat membuka pintu tabungnya itu, ia tercengang. Pandangan matanya berbeda dari tempat semula.

Ia amati sekelilingnya dengan keadaan masih linglung. Tak ada apapun, hanya ruang kosong yang membentang. Sinar pun demikian, sedikit petang. Dalam hati, ia telah berhasil menembus waktu. Ia tak peduli keadaan sekitar, yang terpenting mengambil video dan memfoto. Selepas itu kebingungan.

Mesin penghubung tabung itu tak ikut serta, yang artinya ia tak bisa kembali. Meski begitu, bumi telah luluh lantak akibat badai matahari dan menabrak rotasi planet Nibiru tepat pada 21 Desember 2012. Bumi yang ia kenal, sudah tak ada lagi, hanya bentangan daratan luas berdebu.

Garna Raditja

Senin, 15 Agustus 2011

Bangjo Tanpa Lampu Hijau


Boy, adalah seorang pembalap liar. Masih muda, baru berusia 18 tahun dan suka mencari jalan raya yang lengang untuk ditakluknya. Hidupnya penuh resiko dengan kebiasaaan mengendarainya yang mengancam nyawa, tapi baginya itu adalah biasa.

Suatu ketika, malam itu tampak ramai meski hari biasa. Ia melintasi bundaran Tugu Muda. Ia dengan sepeda motor RX Kingnya pun menderu debu-debu jalan, dan terhenti di Bangjo. Saat berhenti, penunjuk waktu bangjo menunjukkan 100 detik. Hal itu membuatnya harus menenangkan diri untuk sementara. Sambil melamun, ia mengamati pemakai jalan lain yang juga tampak tenang, hilir mudik kendaraan masih riuh. Ia sambil memeriksa ponselnya dan sesekali melihat stopwatch tersebut.

Waktu  masih menunjukkan angka detik ke 67. Padahal ia merasa sudah hampir 1 menit lebih. Tapi pemakai jalan yang lain sepertinya juga sedang menunggu dengan tenang.  Ia semakin kesal, mungkin hanya perasaannya. Sambil memandangi layar ponselnya, ia menengok lagi dan sekitarnya. Ia terperanjat, detik menunjukkan angka 89. Dengan kebingungan, mencoba untuk menerabas tetapi lalu lintas begitu padat.

Boy kemudian iseng bertanya pengendara disebelahnya. "Pak, penunjuk waktu itu tidak rusak kan? kok sepertinya lama ya, padahal ini sudah melewati 3 menit," tanyanya. Matanya memandang kosong sambil menjawab. "Tidak anak muda, angka awal 100 itu bukan menit, tapi tahun."

Bosan dengan keadaannya, ia pun nekat menerabas dengan kencang laju kendaraan laiknya seorang pembalap. Tiba-tiba ia terpaksa berhenti karena didepannya arus lalu lintas padat, ia terhenti lagi di bangjo yang sama.

Garna Raditja

Sabtu, 21 Mei 2011

Barbie yang Dibuang

Benda misterius itu ditemukan seorang warga yang penasaran dengan balutan hitam dibawah jembatang Lemahgempal. Tak ada yang tahu, bagaimana benda itu bisa ada disitu. Sementara orang-orang menganggap itu tumpukan sampah, orang itu akhirnya membuka balutan misterius itu. Ia kaget. Balutan kain itu berisi benda yang mirip Jenglot, mahkluk gaib berbadan kecil ukuran 60 cm.

Kepalanya mengerikan. Sekilas seperti tengkorak celeng dengan dua taring dari bawah mulutnya. Kuku ditiap kaki dan tangannya panjang, begitupula rambut. Badannya kering hitam, seperti hangus terbakar. Untuk menghindari hal-hal yang diinginkan, Jenglot itu dibawa ke Polrestabes Semarang karena menjadi perhatian banyak warga sehingga membuat kemacetan di sepanjang jalan itu.

Salah satu petinggi polisi itu memerintahkan anggotanya untuk menyimpan jenglot itu di sebuah ruangan. Menurut seorang warga, jenglot yang disebut Bungklok itu seharusnya dikubur. Sebab, bungklok itu merupakan mahkluk gaib "anak genderuwo" yang telah "mati" dan dilarung pemiliknya.

Subuh tiba, ruangan di kantor polisi itu lengang. Salah satu anggota yang sedang piket masih terjaga, duduk di sebelah kotak penyimpanan Jenglot. Penasaran atas cerita penemuan Jenglot kemarin oleh anggota sebelumnya. Benda itu disimpan tak jauh ia duduk. Ia pun membuka kotak itu. Kaget dan sedikit bingung. Jenglot itu tak berwujud seperti yang diceritakan teman maupun di media massa. Jenglot itu berwujud boneka Barbie dengan gaun warna putih dan cantik.

Garna Raditja

Selasa, 12 April 2011

Kutukan Twitter

Ia terbilang aktif dalam jejaring sosial. Tiap kali ada kesempatan meski sibuk sekalipun ia sempatkan untuk ngetwit. Maklum, pejabat negara ini sudah mencapai 1 juta pengikutnya yang dikenal banyak orang. Acapkali yang dikatakannya, selalu diteruskan oleh para pengikutnya, terlebih lagi saat berpantun ria. Suatu ketika ia "mengicau" demikian: "akibat itunya dipakai sembarangan". Tak taunya hal itu ditujukan kepada penderita AIDS. 


Beberapa detik kemudian, akun twitternya dihujani mention yang berisi dukungan maupun protes, beriringan suara ponselnya pun berbunyi. Merasa terganggu dengan hal tersebut, ponselnya disetel diam dan membiarkan respon tersebut. Saat bangun pagi, dirinya terbelalak saat membuka akun twitternya di ponsel, followernya tinggal 1 yakni @terkutuk.


Garna Raditja

Senin, 28 Maret 2011

Ledakan Berita

Tiap kali tak ada nama pengirim, tim Gegana datang untuk memeriksa kiriman paket. Ancaman bom yang marak terjadi itu meresahkan masyarakat. Warga ketakutan akibat pemberitaan media yang berlebihan. Para wartawan berlomba-lomba menyajikan berita tersebut supaya menjadi topik utama.

Suatu ketika, kembali terjadi pengiriman ancaman paket bom yang menggemparkan masyarakat. Seperti biasa, wartawan itu menuliskan beritanya dengan heboh. Saat dikirimkan ke bagian redaktur, tiba-tiba komputer salah satu meja itu meledak saat seketika wartawan mengirimkan berita tersebut.

Hampir seluruh komputer redaktur berbagai perusahaan media yang menerima berita teror bom dari wartawannya meledak. Kepanikan itu semakin merajalela. Esok harinya, tak ada media yang menayangkan berita tersebut.

Garna Raditja

Terbius Hujan

Hujan malam ini tak seperti biasanya. Guntur yang menggelegar tak terdengar tegar namun syahdu. Tiap kali suara titik hujan yang mengguyur terdengar seperti melodi yang pilu. Semua orang memilih berserebah sambil menikmati minuman hangat. Adapula beberapa pasangan memanfaatkan waktu itu untuk bercinta. Diantara mereka memilih untuk tidur dan merasa tak ingin esok hari tiba.

Pagi itu masih sepi. Jalanan yang biasanya ramai itu tak terlihat seperti biasanya. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30 hanya ada beberapa orang saja yang beraktivitas. Itupun mereka juga heran dengan situasi yang begitu lengang.

Disebuah kamar, terdengar jam weker mendering. Alarm di ponsel terus berbunyi berkali-kali sejak pukul 05.30. Tak ada yang bangun. Mereka masih tetap saja asyik mengayun mimpi dalam tidur. Mereka semua tak bangun hingga keesokan harinya.

Garna Raditja