Selasa, 07 Februari 2012

Iblis Kehilangan Tanduk


Pria itu menangis lagi di sudut kamarnya, meski insiden yang menimpa dirinya sudah cukup lama berlalu. Ia masih belum rela kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.

Masih tergambar jelas di benaknya bagaimana ormas fasis itu mendatanginya sekitar setahun lalu, mengintimidasinya, hingga akhirnya berbuat keras padanya hanya lantaran ia mengaku sebagai penggemar Iron Maiden, band heavy metal legendaris dari Inggris. Ketika dipaksa untuk mengamini bahwa band kesukaannya itu beraliran sesat, pria itu menolak yang berakibat pada terjadinya hal terburuk yang tidak pernah ia bayangkan.

Delapan jari dari kedua tangannya yang ia punya, dipotong dengan golok. Dan hanya menyisakan dua jari telunjuknya saja.

Pria itu menangis di sudut kamarnya setiap hari sejak hari naas itu. Tidak rela karena tidak bisa lagi mengacungkan devil horns. Selamanya.

@RamaWirawan

Rabu, 01 Februari 2012

Sang Biduan Populer Mendadak


Biduan cantik itu sudah terkenal. Dari yang sebelumnya hanya dikenal di Ciamis, kini wajahnya rajin menghiasi layar televisi. Selain suaranya memang indah, kemampuannya berinteraksi dengan alam gaib
membuat sang biduan lekas menyedot perhatian masyarakat yang mayoritas menggemari klenik.

Hampir setahun ia wara-wiri di layar kaca. Masyarakat belum jenuh. Perolehan rating setiap program acara yang mengundangnya masih membuatpara produser sumringah. Namun, ada hal janggal belakangan ini. Pertama, sang biduan yang diawal selalu mengenakan gaun, kini memakai jaket supertebal layaknya hendak naik gunung. Kedua, ia tidak pernah mau lagi tampil secara
live.

Beredar kabar di kalangan pewarta, belakangan sang biduan sering kabur ke toilet di tengah syuting. Dan itu sesuatu yang tidak bisa dicegah. Jika dipaksakan, tentu membuat sebuah acara siaran langsung terlihat
canggung.

Suatu hari, Twitter geger oleh sebuah trending topic yang menyoal hilangnya sang biduan. Topik tren itu dipicu tweet panik dan berlebihan seorang asisten produser sebuah program salah satu stasiun televisi yang kebingungan lantaran sang biduan tidak bisa dihubungi.

Hari demi hari berlalu, sang biduan tidak pernah terlihat lagi. Hingga suatu tengah malam, sebuah tautan berita muncul di Twitter: “Bayi Aneh Ditemukan di Ciamis.” Itu kampung halaman sang biduan; tempat jejak
kaki raksasa ditemukan beberapa waktu lalu.

@RamaWirawan

Sabtu, 07 Januari 2012

Dibina Binatang


Kerangkeng itu semakin penuh penghuninya. Tiap akhir pekan banyak dikunjungi warga untuk menonton. Ada pula keluarganya yang ingin menengok melihat keadaan kerabatnya disana.

Sejak diberlakukan penempatan hukuman penjara di kebun binatang, tindak korupsi semakin menurun. Agaknya, peraturan tersebut cukup membuat jera pelakunya. Upaya itu dilakukan setelah hukum konstitusional semakin lemah dengan aksi suap aparat hukum.

Para tahanan itu tinggal satu kerangkeng ditiap jenis hewan untuk dibina. Penempatan dilakukan secara acak, ada yang bersama buaya, monyet, burung hingga ular. Manusia dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Selasa, 03 Januari 2012

Selamat dari Badai Matahari


Sudah 1 tahun lebih ia mendekam di penjara atas dakwaan korupsi. Setelah melalui pemeriksaan intensif serta mengajukan banding, ia mendapatkan keringanan hukuman. Kini mempersiapkan untuk menghirup udara bebas.

Keinginan bertemu keluarga dan kerabatnya semakin besar. Ia telah  membendung rindu dan tak sabar untuk keluar dari sel tahanan. Mereka percaya bahwa dirinya tak pernah melakukan penggelapan dana banggar seperti apa yang dituduhkan.

Selama masih mempunyai harta, ia bisa melakukan apapun.

Barang-barangnya telah ia bawa, namun tak ada anggota keluarga yang menjemputnya, padahal ia telah mengabarkan jauh-jauh hari. Gerbang setinggi 5 meter penuh dengan pengamanan ketat itu pun terbuka. Pandangan matanya hanya melihat hamparan tanah yang kosong. Melihat kebelakang pun demikian.

Sejak bumi diterjang badai matahari beberapa waktu lalu, semua makhluk hidup menemui ajalnya. Ia selamat, sendiri.

Sabtu, 24 Desember 2011

Kado dari Santa Klaus


Ia tak bisa kembali ke negara asalnya untuk merayakan natal, lantaran ia kehabisan tiket pesawat untuk pulang. Padahal sudah jauh-jauh hari telah merencanakan untuk menemui keluarganya.

Dinginnya salju di dalam flat nya yang kecil, ia hanya bisa menatap foto keluarganya berharap bisa membawa kabar baik bahwa dirinya membawa calon istri. Namun, hingga kini ia masih terus melajang dan sibuk dengan pekerjaannya.

Malam natal, ia hanya bisa tercenung di perapian sambil mendengarkan musik. Iseng dia menggantungkan kaus kaki di beranda perapian sebagai hiasan, untuk mendapatkan hadiah dari Santa Klaus yang telah menjadi tradisi turun temurun oleh keluarganya. 

Akibat kelelahan karena kesepian, ia terlelap tidur di sofa depan perapian.

"Brukk…" Jejaka itu terbangun akibat suara seperti benda jatuh. Dengan setengah sadar, ia berusaha memastikan penglihatannya. Matanya terbelalak pada perempuan lucu berambut panjang yang menyeka rambut seraya membersihkan tubuhnya dari abu perapian.

Kamis, 08 Desember 2011

Sang Pembawa Bencana


Tiap kali berada di kerumunan orang, selalu terjadi hal buruk. Akibatnya ia terkucilkan, sebab desas-desus sebagai pembawa bencana itu muncul sejak beberapa kali kejadian. Entah ada yang tertabrak, pohon tumbang hingga keracunan makanan.

Remaja berumur 15 tahun itu juga tak mengetahui penyebabnya hingga membuat nasib sial bagi orang yang didekatnya. Namun bagi keluarganya, ia membawa keberuntungan.

Tak sengaja bertemu dengan seorang wartawan yang seharian belum mendapatkan berita. Obrolan terjadi dan memberitahukan untuk berhenti bicara dengannya. "Ha, pembawa bencana? Kamu ada-ada saja. Kalau tidak ada teman, aku ajak jalan-jalan," ujar si wartawan sambil menyiapkan motornya untuk membuktikan omongannya.

Beberapa menit saat dibonceng, terjadi tanah longsor yang memakan korban, jaraknya hanya beberapa meter darinya. Seketika itu juga ia mengambil kamera dan menghubungi wartawan lain. Hari berikutnya, ia diajak mengitari kota oleh gerombolan wartawan. Stok berita kejadian tercukupi, mereka pun senang.

Sang remaja lupa memberitahu jika sengaja mengajaknya untuk menciptakan kejadian, kerabat keluarga sang wartawan akan celaka satu persatu, persis seperti yang telah terjadi sesuai pada berita yang ditulisnya.




Jumat, 02 Desember 2011

Putusnya Syaraf Tertawa


Sebelumnya dia adalah komedian yang terkenal, sering tampil di televisi, punya banyak penggemar dan juga pembenci. Sebelum terkenal, orangnya yang sopan dan santun mendadak menjadi sombong dan pongah. Awalnya hanya di belakang kamera, namun karena kebiasaan, kesombongannya ia tampakkan di depan kamera juga. Pun di muka umum, ia semakin tak peduli dan makin sombong.

Satu persatu orang-orang terdekatnya menjauh, penggemarnya mulai pergi. Show-nya yang dulu ramai sekarang mulai sepi. Orang-orang yang tadinya tertawa sekarang jadi terpukau akan kepongahannya. Kini dia tak lucu lagi, bahkan cenderung tempramen. Frustrasi akan keadaan, ia salahkan penonton tiap kali show. Ia bilang "syaraf tertawa kalian sudah putus!"

Ternyata bukan syaraf penonton yang "putus", tetapi ada bekas luka jahitan di belakang kepalanya. Letak dari syaraf tertawanya yang diam-diam diputus sang manajer, yang mendadak tenar akibat penampilannya di acara komedi TV.