Benda misterius itu ditemukan seorang warga yang penasaran dengan balutan hitam dibawah jembatang Lemahgempal. Tak ada yang tahu, bagaimana benda itu bisa ada disitu. Sementara orang-orang menganggap itu tumpukan sampah, orang itu akhirnya membuka balutan misterius itu. Ia kaget. Balutan kain itu berisi benda yang mirip Jenglot, mahkluk gaib berbadan kecil ukuran 60 cm.
Kepalanya mengerikan. Sekilas seperti tengkorak celeng dengan dua taring dari bawah mulutnya. Kuku ditiap kaki dan tangannya panjang, begitupula rambut. Badannya kering hitam, seperti hangus terbakar. Untuk menghindari hal-hal yang diinginkan, Jenglot itu dibawa ke Polrestabes Semarang karena menjadi perhatian banyak warga sehingga membuat kemacetan di sepanjang jalan itu.
Salah satu petinggi polisi itu memerintahkan anggotanya untuk menyimpan jenglot itu di sebuah ruangan. Menurut seorang warga, jenglot yang disebut Bungklok itu seharusnya dikubur. Sebab, bungklok itu merupakan mahkluk gaib "anak genderuwo" yang telah "mati" dan dilarung pemiliknya.
Subuh tiba, ruangan di kantor polisi itu lengang. Salah satu anggota yang sedang piket masih terjaga, duduk di sebelah kotak penyimpanan Jenglot. Penasaran atas cerita penemuan Jenglot kemarin oleh anggota sebelumnya. Benda itu disimpan tak jauh ia duduk. Ia pun membuka kotak itu. Kaget dan sedikit bingung. Jenglot itu tak berwujud seperti yang diceritakan teman maupun di media massa. Jenglot itu berwujud boneka Barbie dengan gaun warna putih dan cantik.
Garna Raditja
Sabtu, 21 Mei 2011
Selasa, 12 April 2011
Kutukan Twitter
Ia terbilang aktif dalam jejaring sosial. Tiap kali ada kesempatan meski sibuk sekalipun ia sempatkan untuk ngetwit. Maklum, pejabat negara ini sudah mencapai 1 juta pengikutnya yang dikenal banyak orang. Acapkali yang dikatakannya, selalu diteruskan oleh para pengikutnya, terlebih lagi saat berpantun ria. Suatu ketika ia "mengicau" demikian: "akibat itunya dipakai sembarangan". Tak taunya hal itu ditujukan kepada penderita AIDS.
Beberapa detik kemudian, akun twitternya dihujani mention yang berisi dukungan maupun protes, beriringan suara ponselnya pun berbunyi. Merasa terganggu dengan hal tersebut, ponselnya disetel diam dan membiarkan respon tersebut. Saat bangun pagi, dirinya terbelalak saat membuka akun twitternya di ponsel, followernya tinggal 1 yakni @terkutuk.
Garna Raditja
Senin, 28 Maret 2011
Ledakan Berita
Tiap kali tak ada nama pengirim, tim Gegana datang untuk memeriksa kiriman paket. Ancaman bom yang marak terjadi itu meresahkan masyarakat. Warga ketakutan akibat pemberitaan media yang berlebihan. Para wartawan berlomba-lomba menyajikan berita tersebut supaya menjadi topik utama.
Suatu ketika, kembali terjadi pengiriman ancaman paket bom yang menggemparkan masyarakat. Seperti biasa, wartawan itu menuliskan beritanya dengan heboh. Saat dikirimkan ke bagian redaktur, tiba-tiba komputer salah satu meja itu meledak saat seketika wartawan mengirimkan berita tersebut.
Hampir seluruh komputer redaktur berbagai perusahaan media yang menerima berita teror bom dari wartawannya meledak. Kepanikan itu semakin merajalela. Esok harinya, tak ada media yang menayangkan berita tersebut.
Garna Raditja
Suatu ketika, kembali terjadi pengiriman ancaman paket bom yang menggemparkan masyarakat. Seperti biasa, wartawan itu menuliskan beritanya dengan heboh. Saat dikirimkan ke bagian redaktur, tiba-tiba komputer salah satu meja itu meledak saat seketika wartawan mengirimkan berita tersebut.
Hampir seluruh komputer redaktur berbagai perusahaan media yang menerima berita teror bom dari wartawannya meledak. Kepanikan itu semakin merajalela. Esok harinya, tak ada media yang menayangkan berita tersebut.
Garna Raditja
Terbius Hujan
Hujan malam ini tak seperti biasanya. Guntur yang menggelegar tak terdengar tegar namun syahdu. Tiap kali suara titik hujan yang mengguyur terdengar seperti melodi yang pilu. Semua orang memilih berserebah sambil menikmati minuman hangat. Adapula beberapa pasangan memanfaatkan waktu itu untuk bercinta. Diantara mereka memilih untuk tidur dan merasa tak ingin esok hari tiba.
Pagi itu masih sepi. Jalanan yang biasanya ramai itu tak terlihat seperti biasanya. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30 hanya ada beberapa orang saja yang beraktivitas. Itupun mereka juga heran dengan situasi yang begitu lengang.
Disebuah kamar, terdengar jam weker mendering. Alarm di ponsel terus berbunyi berkali-kali sejak pukul 05.30. Tak ada yang bangun. Mereka masih tetap saja asyik mengayun mimpi dalam tidur. Mereka semua tak bangun hingga keesokan harinya.
Garna Raditja
Pagi itu masih sepi. Jalanan yang biasanya ramai itu tak terlihat seperti biasanya. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 07.30 hanya ada beberapa orang saja yang beraktivitas. Itupun mereka juga heran dengan situasi yang begitu lengang.
Disebuah kamar, terdengar jam weker mendering. Alarm di ponsel terus berbunyi berkali-kali sejak pukul 05.30. Tak ada yang bangun. Mereka masih tetap saja asyik mengayun mimpi dalam tidur. Mereka semua tak bangun hingga keesokan harinya.
Garna Raditja
Jumat, 28 Januari 2011
Uji Nyali pt. 2
Sapaan itu dibalas dengan suara lembut namun tegas. Sedikit terdengar kering namun seksi. Wanita jangkung rambut pendek itu sepintas seperti gemma artenton, namun dalam versi peranakan cina.
Obrolannya diawali hal basa-basi. 3 jam berlalu, tak terasa mereka akrab, bahkan berdiskusi tentang ajaran filsafat. Dari tao hingga post modern. Ia juga menyimpulkan dia adalah seorang Nietzschean. Sementara itu di ruang operator, mereka terus takjub dengan pesertanya yang berbicara sendiri, bahkan pembahasannya tergolong intelektuil.
Keasyikan obrolannya dari yang serius hingga ketawa-ketiwi tak terasa berlalu 5 jam sampai menandakan fajar menyingsing. "Aku pamit dulu ya, kita akan berjumpa lagi. Senang berbicara denganmu," ujar sang jin tersenyum seraya menghilang. Mereka terlihat seakan berat berpisah, sedangkan para kru mendatangi dan menyatakan dirinya berhasil dalam uji nyali.
Uang Rp 2 juta itu ditangannya. Teman-teman kampusnya menggapnya tindakannya gila, sedangkan yang lain juga menganggap pria itu semakin terlihat seksi. Tak pelak, bunga-bunga kampus satu persatu mendekatinya. Tapi, ia merindukan wanita jin itu.
Garna Raditja
Obrolannya diawali hal basa-basi. 3 jam berlalu, tak terasa mereka akrab, bahkan berdiskusi tentang ajaran filsafat. Dari tao hingga post modern. Ia juga menyimpulkan dia adalah seorang Nietzschean. Sementara itu di ruang operator, mereka terus takjub dengan pesertanya yang berbicara sendiri, bahkan pembahasannya tergolong intelektuil.
Keasyikan obrolannya dari yang serius hingga ketawa-ketiwi tak terasa berlalu 5 jam sampai menandakan fajar menyingsing. "Aku pamit dulu ya, kita akan berjumpa lagi. Senang berbicara denganmu," ujar sang jin tersenyum seraya menghilang. Mereka terlihat seakan berat berpisah, sedangkan para kru mendatangi dan menyatakan dirinya berhasil dalam uji nyali.
Uang Rp 2 juta itu ditangannya. Teman-teman kampusnya menggapnya tindakannya gila, sedangkan yang lain juga menganggap pria itu semakin terlihat seksi. Tak pelak, bunga-bunga kampus satu persatu mendekatinya. Tapi, ia merindukan wanita jin itu.
Garna Raditja
Minggu, 23 Januari 2011
Uji Nyali pt.1
Pemuda itu sedang membutuhkan uang untuk membayar uang kuliahnya. Ia akan melakukan apa saja untuk bisa lulus yang direncanakan akan selesai satu semester lagi di jurusan filsafat. Di kampusnya ia mendengarkan pengumuman sebuah rumah produksi untuk sebuah tayangan reality show, yaitu duduk selama 5 jam di sebuah tempat yang angker. Jika bisa bertahan dengan tenggat waktu yang ditentukan, akan mendapatkan uang Rp 2 juta.
Hanya sedikit yang mendaftar, karena tempat itu adalah bangunan peninggalan Cina yang dihuni oleh makhluk halus perempuan yang mempunyai lidah sepanjang 2 meter. Keadaan yang menghimpitnya membuat untuk mendaftar tantangan uji nyali yang terkenal itu.
Kebetulan, ia sedang menguji keberadaan dimensi lain untuk menunjang skripsinya yang bertema menguak azab proto eksistensialisme dalam pemikiran jawa kuno. Ia pun mendaftar dengan penuh berani. Menurut teman sekampusnya, ia dikenal seorang pagan dengan buku-buku filsuf yang sekaligus seorang metalhead, tepatnya pendengar musik black metal akut.
Tengah malam tiba, para tim produksi sudah mempersiapkan pengambilan pembawa acara. Kini gilirannya memasuki rumah itu. Seperti biasa perkenalan dilakukan dan saatnya dia ditinggal sendiri.
Didekatnya ada guci dan perabotan rumah yang terselimuti debu. Meski konon pernah terdengar ada harta karun disitu, tak ada yang berani memasuki. Ia amati sekelilingnya, hanya gelap dan udara dingin yang menusuk. Tiap ada suara aneh ia tetap saja bersikap acuh, sedangkan pembawa acara dengan parapsikolog dan supranaturalis mengkomentari keadaan dengan sedemikian menakutkan. Pemuda itu tetap saja bersiul santai.
Di kegelapan itu, tiba-tiba datang seorang wanita cantik. Ia langsung berpikir, inilah jin penunggunya itu. Dengan santai ia menyapa mengajaknya untuk berbincang dan mengatakan hai. (bersambung)
Garna Raditja
Hanya sedikit yang mendaftar, karena tempat itu adalah bangunan peninggalan Cina yang dihuni oleh makhluk halus perempuan yang mempunyai lidah sepanjang 2 meter. Keadaan yang menghimpitnya membuat untuk mendaftar tantangan uji nyali yang terkenal itu.
Kebetulan, ia sedang menguji keberadaan dimensi lain untuk menunjang skripsinya yang bertema menguak azab proto eksistensialisme dalam pemikiran jawa kuno. Ia pun mendaftar dengan penuh berani. Menurut teman sekampusnya, ia dikenal seorang pagan dengan buku-buku filsuf yang sekaligus seorang metalhead, tepatnya pendengar musik black metal akut.
Tengah malam tiba, para tim produksi sudah mempersiapkan pengambilan pembawa acara. Kini gilirannya memasuki rumah itu. Seperti biasa perkenalan dilakukan dan saatnya dia ditinggal sendiri.
Didekatnya ada guci dan perabotan rumah yang terselimuti debu. Meski konon pernah terdengar ada harta karun disitu, tak ada yang berani memasuki. Ia amati sekelilingnya, hanya gelap dan udara dingin yang menusuk. Tiap ada suara aneh ia tetap saja bersikap acuh, sedangkan pembawa acara dengan parapsikolog dan supranaturalis mengkomentari keadaan dengan sedemikian menakutkan. Pemuda itu tetap saja bersiul santai.
Di kegelapan itu, tiba-tiba datang seorang wanita cantik. Ia langsung berpikir, inilah jin penunggunya itu. Dengan santai ia menyapa mengajaknya untuk berbincang dan mengatakan hai. (bersambung)
Garna Raditja
Warung Kopi
Lelaki itu tak kunjung sampai di perbatasan Semarang, tujuan kepergiannya. Dengan mata lelah dan sayu ia terus kemudikan motornya yang buluk. Saat dalam perjalanan ia berpikir untuk mampir di sebuah warung kopi mengatasi rasa kantuk.
Saat memikirkan demikian, ia melihat sebuah warung di belantara alas yang dilewati. Sudah tengah malam, ia berpikir masih ada warung yang buka. Tanpa berpikir panjang, ia berhentikan motornya. Seorang lelaki, yang melayani tawarkan kopi."Ini adalah kopi kebahagiaan. Jika meminumnya kau teguk riang dan gembira", ujarnya.
Pria itu kebingungan."Yang penting aku bisa meneruskan perjalanan, hilangkan kantuk,"tegasnya. Pramusaji itu sajikan kopi, ia meminumnya dengan menyulut sebatang rokok kretek. Seusainya, ia lanjutkan perjalanan. Saat pagi tiba, ia terbangun masih di warung itu dan menjadi pramusaji yang memberikan kopi. Begitu seterusnya yang terjadi kepada orang lain jika ada yang mampir di warung tersebut.
Garna Raditja
Saat memikirkan demikian, ia melihat sebuah warung di belantara alas yang dilewati. Sudah tengah malam, ia berpikir masih ada warung yang buka. Tanpa berpikir panjang, ia berhentikan motornya. Seorang lelaki, yang melayani tawarkan kopi."Ini adalah kopi kebahagiaan. Jika meminumnya kau teguk riang dan gembira", ujarnya.
Pria itu kebingungan."Yang penting aku bisa meneruskan perjalanan, hilangkan kantuk,"tegasnya. Pramusaji itu sajikan kopi, ia meminumnya dengan menyulut sebatang rokok kretek. Seusainya, ia lanjutkan perjalanan. Saat pagi tiba, ia terbangun masih di warung itu dan menjadi pramusaji yang memberikan kopi. Begitu seterusnya yang terjadi kepada orang lain jika ada yang mampir di warung tersebut.
Garna Raditja
Langganan:
Postingan (Atom)