Rabu, 09 Mei 2012

Pemburu Tawa


Sejak pertama kali Santi mengetahui ayahnya menikah lagi, gadis itu berhenti tertawa. Otot bibirnya menegang dan seringkali ia merasakan nyeri. Gadis itu kemudian memutuskan untuk memburu tawa dimanapun ia berada.

Night club menjadi teman malamnya, disana banyak sekali orang tertawa, tapi bukan dia. Acara komedi di televisi ia tongkrongi, penonton tertawa menjadi-jadi, tapi bukan Santi. Berbagai tempat lain-pun ia sambangi, tapi hausnya akan tawa seolah tak pernah terobati.

Hingga di suatu hari, tepat pada ulang tahunnya di bulan Mei, sebuah mobil putih menjadi hadiah terindah bagi Santi. Mobil itu mengantarkannya ke sebuah tempat dimana ia menemukan kembali tawanya, tempat dimana tawanya menyatu dengan tawa lepas lainnya. Gerbang tempat itu bertuliskan ‘Rumah Sakit Jiwa’.

Devi Hermasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar