Jumat, 26 Oktober 2012

Terpasung Mimpi


Ada suara berderik, tiap jendela di kamar terkena angin. Biasanya memang aku buka untuk sirkulasi udara. Kalau sudah terdengar terus-terusan, serasa ada yang mengajak bicara. Aku ucapkan selamat pagi kepada suara itu.

Sudah sore, tidak ada angin tidak ada suara jendela. Gerimis yang membasahi tanaman diluar, menandakan aku harus menutup jendela supaya air tidak memasuki ruang. Listrik mati, aku hanya rebahan di tanah lembab sambil memandangi tetesan yang bergulir di kaca jendela. Aku tertidur lagi.

Gelap, listrik untuk satu bohlam didalam tak kunjung menyala. Hanya hawa sejuk pascahujan menyelimuti. Suara derik jendela itu terdengar, sekali dua kali, dan seterusnya. Itu suara merdu bagiku.

Melihat ke atap, kadang aku melihat bintang dan bulan. Cerah sekali. Seperti aku berada rimbunan pohon, tapi nyatanya aku diatas pasir pantai, dengan terdengar ombak yang menggulung. Aku tertidur lagi, bangun dipuncak atap gedung, dan tidur lagi berharap kerangkeng di kakiku mengarat dan melepaskan aku.

@GarnaRaditya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar