Jumat, 26 Oktober 2012

Menikahi Cermin

Sebuah cermin yang cukup tua usianya tergantung di dinding rumah. Penghuni baru merasa beruntung dengan keberadaan benda berbentuk bulat itu. Antik, jarang ia temui sejauh melihat cermin yang ada.

Tidak ada bingkai atau ukiran, sebuah cermin lonjong sepanjang 1 meter. Setelah dibersihkan dari debu, wujudnya seperti baru. Ia pindahkan posisi di ruang tamu. Hanya itu yang tersisa di rumah yang telah lama tidak ditinggali. Untuk sebuah tempat tinggal, terlampau bersih yang membuatnya memilih rumah yang dekat dengan jalan raya, dikelilingi gedung perkantoran. 


Suatu ketika ia memandang cermin. Melihat dirinya ia sesekali merasa dirinya yang tampan, memiliki jabatan karier yang tinggi dan keberuntungan lainnya. Ia merasa tenang saat melihat dirinya di cermin.


Undangan ia sebarkan. Pernikahannya yang sederhana itu menggembirakan kerabat dan keluarganya meski tidak tahu persis siapa pasangannya. Hanya sebuah nama tertera di undangan. Para tamu datang dengan penuh tanda tanya. Seperti sebuah helatan makan malam, pikir mereka. Ia muncul ditengah meja panjang sambil tersenyum mendekap cermin. 


"Perkenalkan, ini istri saya". 


Ia pandang cermin itu sambil tersenyum, melihat dirinya yang tampan itu sebagai mempelai.


@GarnaRaditya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar