Rabu, 19 Januari 2011

Hukuman Komputer

Keinginanku memiliki sebuah komputer, kini telah terwujud. Meski bekas, setidaknya masih dapat digunakan untuk mengetik hasil karya sastraku. Jika dibanding dengan teknologi saat ini, komputer yang baru aku beli di sebuah lelang barang bekas, tergolong komputer kuno. Hanya terdiri dari monitor berwarna putih busam, keyboard yang sudah tidak terlihat hurufnya, mouse optic yang nampak masih belum lama digunakan oleh pemilik pendahulunya, serta CPU dengan prosesor pentium 3. Spesifikasi itu sudah cukup lumayan untuk menemaniku dalam berkarya.

Menurut pengurus lelang, jika komputer itu tak bisa dinyalakan, uang akan dikembalikan. Rasa penasaran untuk mencoba, begitu menggebu. Komputer bekas itu sudah ku tata rapi di ruang kamarku. Namun aneh, ketika aku menghidupkan power CPU, bukan suara mesin yang mendengung, namun suara rintihan sendu yang terdengar begitu lirih. Aku tak mempedulikannya.

Rasa aneh muncul ketika monitor mulai menyala. Bbukan sebuah sistem operasi yang muncul, melainkan sebuah film yang langsung bercerita tentang penyiksaan seorang laki-laki terhadap wanita. Laki-laki tersebut terus mencambuki perempuan yang sudah berlumuran darah. Tak berhenti di situ saja, pria sadis itu menguliti hidup-hidup korbannya. Penyiksaan itu difilmkan langsung agar tersimpan di sebuah memory komputer, tak jauh dari tempat penyiksaan.

Tak lama, korban penyiksaan itu tewas kehabisan darah, dan pria itu tertawa dengan begitu puas. Anehnya si pria tiba-tiba menghilang dari film. Hanya terlihat mayat wanita yang sudah kehilangan seluruh kulitnya.
Dan seperti mimpi, tiba-tiba aku berada di dalam ruangan yang bukan kamarku lagi. Ruangan tersebut tak berbeda jauh dari tempat penyiksaan pada film yang aku lihat tadi. Berdiri pula pria yang menyiksa wanita secara sadis tadi di sampingku. ia hanya berkata "kamu lah korbanku berikutnya".

Dadangman Penghuni Surga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar