Jumat, 08 Oktober 2010

Lantai Loteng Tak Berpenghuni

Sudah dua hari dua malam, aku menghuni rumah kontrakan yang cukup mungil ini, dan ini adalah malam ketigaku. Aktifitas peliputan di siang hari, telah menyita segala daya fisik dan pikirku. Setelah pulang dan sesampainya di kontrakan, aku langsung merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, untuk sekedar menghilangkan penat dan mempersiapkan fisik untuk esok hari.

Dua malam lalu, aku selalu mendengar rintihan seorang wanita yang meminta tolong dari bagian belakang rumah. Hal itu selalu terjadi setiap pukul 00.00 karena tubuhku yang sudah terlampau lelah dengan aktifitas siang hari, aku hanya mengacuhkan suara itu. Aku berpikir itu mungkin tetanggaku yang sedang bertengkar dengan suaminya. maklum, aku orang baru di kampung ini. Akan tetapi malam ini aku begitu penasaran. Rasa lelahku, tak bisa menghalangi rasa penasaran itu. 


Malam ini, suara itu kembali terdengar jelas. Rasa kantukku tiba-tiba hilang. Aku mencoba mengobat rasa penasaran yang menggunung dalam dadaku. Kucoba langkahkan kaki menuju belakang rumah. Penerangan yang tidak terlalu memadai di rumah kontrakan baru itu, membuatku merinding. Aku merasakan suara itu tidak seperti suara manusia. Terasa begitu berat dengan desisan minta tolong. 

Begitu aku membuka pintu belakang, aku begitu terhenyak. Kumelihat tubuh wanita tua yang menggantung di atap. Tubuhnya di penuhi luka. Wajahnya penuh dengan darah. Bajunya robek hampir di semua bagian, memperlihatkan sisa-sisa penganiayaan.

Dadangman Penghuni Surga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar