Sabtu, 09 Oktober 2010

Sang Pemburu

Jum’at, 3 september 2009 kawasan hutan Gunung Ungaran.

Pukul 16:00 WIB...Hampir seharian Gondho merunduk-runduk menanti sasaran di rerimbunan pohon dan perdu hutan sebelah barat gunung Ungaran. Sebagai ketua tim rombongan berburu, terlihat benar jika Gondho gelisah. Sudah lebih dari delapan jam ia beserta rombongannya menunggu sasaran babi hutan, namun tak sekalipun binatang tersebut terlihat melintas dalam bidikan. Gondho adalah seorang pensiunan Letnan Kolonel TNI dari batalyon infanteri.

Pukul 16;30 WIB… Tiba-tiba dari balik rerimbunan pohon muncul serombongan kera ekor panjang yang melompat-lompat berpindah dahan. Jumlahnya kurang lebih ada 12 ekor. Kera berbadan paling besar berada didepan sementara kera lainnya mengikuti pelan dibelakang. Kera paling besar terlihat waspada memperhatikan sekeliling. Matanya tajam, bulunya panjang cemerlang berkilauan ditimpa cahaya sore. Gondho sontak mengarahkan bidikannya ke rombongan kera tersebut. Dalam sekali sentakan senapan kaliber 4,5 mm yang dibawanya menyalak. Dan dalam hitungan detik saja rombongan kera tersebut lintang pukang berlarian berteriak-teriak tak karuan. Terlihat jelas dari jarak 30 meter darah muncrat membasahai daun-daun yang semula hijau. Kera yang semula memimpin rombongan terlihat terkapar dengan kepala pecah berantakan tertembus peluru senapan Gondho.


Jum’at, 3 September 2009 Kawasan Simpang Lima Semarang
Pukul 16: 00 WIB…Prasasti pulang dari mengikuti les piano. Gadis belia berwajah lembut tersebut berlari-lari kecil menghindari rinai hujan yang mulai turun. Ia berteduh dibawah warung tenda kaki lima sambil menunggu angkutan umum lewat. Seminggu sekali setiap hari Jum’at Prasasti mengikuti les piano setelah selesai sekolah. Tak seperti biasanya, hari itu prasasti pulang les sendiri tidak dijemput orang tuanya. Ayah prasasti adalah seorang mantan tentara dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.

Pukul 16:30 WIB… Hujan turun makin deras saja. Angin kencang diselingi kilat petir seperti mengoyak angkasa. Tiba-tiba terdengar suara gemeretak panjang diikuti suara berdebam. Sebuah papan reklame berukuran besar roboh menimpa warung tenda kaki lima tempat berteduh prasasti. Terdengar suara rintihan, empat orang mengalami luka serius termasuk pemilik warung tenda. Prasasti tertelungkup tak bergerak, baju seragam sekolahnya merah darah. Kepala Prasasti hancur dihantam batang besi penyangga papan reklame.

Dedalu Digda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar