Minggu, 24 Oktober 2010

Suara Cello

Sha selalu memainkan cellonya tiap sore di teras rumahnya. Harmoni yang dia ciptakan membawa kedamaian bagi yang mendengar. Sejak umur 3 tahun anak komposer besar itu tak pernah lepas dari alat musik yang dia mainkan selama 14 tahun itu. Ia pendiam dan cerdas, parasnya cantik membuat pria malu untuk mendekati.

Sebagai musisi ia ingin bereksperimen menciptakan nada disharmoni, namun membengkokkan notasi dari dawai yang digesek, baginya tak terdengar alami. Ada seorang pria yang belakangan ini memperhatikan dia dan mengagumi permainan sang gadis. Diajaklah pria itu untuk minum teh di sore hari.

Jendela kamarnya yang terlihat dari luar, terdengar suara berteriak terlunta-lunta. "Hoerrghhh...hoerghhh", begitu bunyinya. Sha mendekap pria itu selayaknya memainkan cello dengan posisi bertekuk lutut dan tangan terikat. Sha memejamkan mata terlihat nikmat mendengarkan pita suara pria yang tergorok dari busur cellonya yang berhelai kawat tajam. Dia menuliskan teriakan pria yang disiksanya itu menjadi not balok, Sha baru saja membuat komposisi untuk persiapan konser resital disekolahnya.

Garna Raditja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar